CATATAN DINI HARI

:labuhan bilik, riau

Debur ombak dan goyang perahu
Bermain sendiri dalam sepi
Semua yang hidup tertidur
Melipat diri dalam mimpi

Bintang berkaca dalam sunyi
Sebait bulan yang menemaniku
Pun hendak undur diri

Bersama angin dini hari
Kucoba untuk bernyanyi
Mengirim rindu termanis
Sebelum bunuh diri

Bulan pun pergi
Dan perahu nelayan
Tak pernah kembali

Rokan Hilir, Maret 2007.
Baca Lengkapnya....

INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu
Seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu
Masih menetes-netes juga
Dan rintihmu pilu kurasa?

Burung-burung bernyanyi menghiburmu
Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu
Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?
Apakah kau tangisi hutan-hutan
Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?
Apakah kau tangisi hutang-hutang negara
Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?
Apakah kau tangisi nasib rakyatmu
Yang makin tergencet kenaikan harga?
Atau kau sekadar merasa kecewa
Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika
Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,
Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?

Ah, apapun yang terjadi padamu
Indonesia, aku tetap mencintaimu
Ingin selalu kucium jemari tanganmu
Seperti kucium jemari tangan ibuku
Sungguh, aku tetap mencintaimu
Karena itulah, ketika orang-orang
Ramai-ramai membeli dolar amerika
Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!

Jakarta, 1997/2008
Baca Lengkapnya....

DI BAWAH LANGIT MALAM


——— purworejo
kucium kening bulan
dalam sentuhan dingin angin malam
ayat-ayat tuhan pun tak pernah bosan
memutar planet-planet dalam keseimbangan
langit yang membentang
menenggelamkanku ke jagat dalam
kutemukan lagi ayat-ayat tuhan
inti segala kekuatan putaran
jagad yang menghampar
membawaku ke singgasana rahasia
pusat segala energi dan cahaya
membebaskan jiwa
dari penjara kefanaannya
kucium lagi kening bulan
engkau pun tersenyum
dalam penyerahan

1983

(diambil dari buku : SEMBAHYANG RUMPUTAN karya Ahmadun Y Herfanda, penerbit Bentang Budaya, cetakan pertama, Mei 1996)
Baca Lengkapnya....

Sastra, MPU, dan Persoalan Lingkungan

Masalah lingkungan dan jejak alam pada sastra menjadi tema penting dalam Temu Sastra III Mitra Praja Utama (MPU), yang berlangsung di Hotel Panorama Lembang, Bandung, 4-6 November 2008. Selain menempatkan sastra dan lingkungan hidup sebagai tema acara, jejak alam pada sastra menjadi salah satu tema diskusi.

Persoalan lingkungan, seperti diakui Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat membuka acara, memang sedang menjadi perhatian Pemda Provinsi Jabar. Mengikuti semangat peduli lingkungan itu, temu sastra yang diikuti oleh sekitar 60 sastrawan dan peminat sastra dari 10 provinsi anggota MPU itu pun mengambil tema tentang lingkungan.

Temu Sastra MPU yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jabar itu merupakan yang ke-tiga. Untuk pertama kali, Temu Sastra MPU diadakan di Anyer, Banten, dan yang kedua diadakan di Pantai Sanur, Bali — diselenggarakan oleh Pemprov masing-masing.

Temu sastra ini diselenggarakan secara bergiliran oleh 10 provinsi anggota MPU. Semula dua tahun sekali, namun kini menjadi setahun sekali dan tahun depan (2009) giliran Pemprov Jawa Tengah sebagai penyelenggara — direncanakan akan digelar di kawasan Borobudur.

Peserta Temu Sastra MPU cukup terbatas. Tiap provinsi hanya mendapat jatah lima peserta (4 sastrawan dan 1 birokrat) yang akomodasinya ditanggung Panitia. Jika akan menambah jumlah peserta, maka menjadi tanggungan Pemprov masing-masing. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta selalu mengirimkan peserta terbanyak. Tahun ini, misalnya, mengirimkan 15 peserta (11 sastrawan dan 4 birokrat).

Menu utama Temu Sastra MPU meliputi diskusi, pentas sastra (baca puisi dan cerpen), sidang peserta, serta wisata budaya. Di Bandung, temu sastra ini mencatatkan satu langkah maju dengan diterbitkannya dua buku karya peserta yang merupakan salah satu rekomendasi dari Temu Sastra MPU Bali — yakni buku kumpulan cerpen Sebelum Meledak dan kumpulan puisi Tangga Menuju Langit.

Sedikitnya delapan pembicara ditampilkan pada Temu Sastra MPU Bandung. Maman S Mahayana dan Safrina Noorman membahas jejak alam dalam sastra Indonesia, M Irfan Hidayatullah dan Warih Wisatsana membahas peran komunitas sastra, Beni Setia membahas pengaruh lingkungan dalam proses kreatif, Triyanto Triwikromo membahas sastra dan dunia maya, Jakob Sumarjo membahas manusia dan pantun Sunda, serta Bambang Sugiharto membahas manusia Indonesia dalam sastra mutakhir.

Jejak alam

Sesuai dengan tema acara, sesi diskusi yang menampilkan Maman S Mahayana dan Safrina Noorman penting untuk disimak. Maman membahas jejak alam dalam prosa Indonesia, sedangkan Safrina membahas jejak alam dalam puisi Indonesia.Karya sastra, menurut Maman, selalu mengungkapkan empat konflik laten yang dihadapi manusia: konflik dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan Tuhan.
Jika sastra (novel) diyakini sebagai representasi gagasan sastrawannya ketika berhadapan dengan serangkaian konflik itu, maka jejak alam dalam novel Indonesia mutakhir, kata Maman, laksana potret masyarakat Indonesia dalam memandang dan memperlakukan alam.Dalam hampir semua novel Indonesia, yang coba menempatkan alam tidak sekadar sebagai latar cerita tetapi juga sebagai masalah yang coba diangkatnya, alam bukanlah ancaman yang menakutkan. “Karena itu, alam tidak diperlakukan sebagai problem yang serius,” kata Maman.

Bahkan, dalam banyak puisi Indonesia, tambah Maman, alam justru menjadi objek yang penuh pesona, yang inspiring. Maka, jejak alam dalam sastra Indonesia adalah ekspresi kekaguman, keterpesonaan, dan hasrat melakukan persahatan dengan alam. “Alam dalam sastra Indonesia tak tersentuh sebagai problem yang serius,” ujarnya.

Dalam puisi, tambah Safrina, alam disikapi secara kontekstual terikat pada ruang dan waktu. Jika pada masa Pujangga Baru muncul puisi-puisi yang memuja alam dalam kerangka pembangunan bangsa dan tanah air, maka dalam perkembangannya alam hadir untuk menyuarakan penindasan atas alam dan berbagai masalah yang terkait dengannya.”Penghadiran alam dalam puisi masa kini menyiratkan posisi manusia dalam hubungan mereka dengan alam dan bagaimana sikap serta pandangan mereka terhadap alam,” ujar Safrina.

Rekomendasi

Sidang peserta yang diikuti wakil-wakil dari 10 provinsi, dan dipimpin oleh ketua panitia pelaksana Acep Zamzam Noor serta anggota tim kurator Ahda Imran, menghasilkan sembilan rekomendasi. Antara lain, mendukung keputusan MPU untuk menyelenggarakan Temu Sastra MPU setahun sekali, serta memutuskan Provinsi Jawa Tengah sebagai penyelenggara Temu Sastra IV MPU tahun 2009, dan Provinsi Lampung sebagai penyelenggara Temu Sastra V MPU tahun 2010.

Sidang juga merekomendasikan agar tiap provinsi anggota MPU membentuk Mitra Sastra MPU yang bertugas membantu Dinas terkait dalam memilih peserta Temu Sastra MPU dari provinsi masing-masing. Dalam hal ini, sidang juga merekomendasikan agar ada regenerasi sastrawan peserta Temu Sastra MPU dengan tetap melihat karya sebagai pertimbangan utama.

Guna membantu keberangkatan peserta, sidang juga menegaskan kewajiban tiap Pemprov anggota MPU untuk membiayai peserta Temu Sastra MPU dari provinsi masing-masing. Tiap provinsi anggota MPU wajib mengirimkan minimal 7 orang peserta yang terdiri dari 5 orang sastrawan dan 2 orang birokrat dari Dinas terkait.

Direkomendasikan pula agar ada pengamat dari Sekretariat Bersama (Sekber) MPU yang bertugas untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan Temu Sastra MPU, serta perlunya ada sesi diskusi yang menghadirkan pihak Sekber MPU dan birokrat dari Dinas terkait. Sidang juga merekomendasi Trianto Triwikromo serta Dorothe Rosa Herliany untuk menjadi anggota kurator Temu Sastra IV MPU. Penunjukan anggota kurator lainnya dipercayakan kepada Pemprov Jawa Tengah.

Pertunjukan sastra di teras Hotel Panorama berlangsung dua malam berturut-turut. Hampir semua peserta mendapat giliran untuk membacakan karya-karya mereka — puisi dan penggalan cerpen. Dengan cukup memukau, Dede Yusuf pun dua kali tampil membacakan sajak. Penampilan pertama sendiri, dan penampilan kedua berduet dengan penyair Dina Oktaviani.
Baca Lengkapnya....

Novel Mahabbah Rindu dan Puncak Fiksi Islami

Sebuah ‘novel sastra’ yang Islami hadir lagi dari seorang perempuan Muslim penulis: Mahabbah Rindu karya Abidah el Khalieqy. Novel setebal 404 halaman terbitan Diva Pres (Yogyakarta, November 2007) ini menambah kekayaan khasanah fiksi Indonesia kontemporer yang masih tetap diramaikan oleh karya-karya para perempuan penulis.

Dengan label novel inspiratif pencarian kebenaran iman Abidah mencoba menyajikan fiksi Islami yang agak lebih dalam dan serius (nyastra) dibanding novel-novel pop Islami semisal Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy ataupun novel-novel pop Islami lain karya para penulis dari Forum Lingkar Pena (FLP).

Bobot kesastraan Mahabbah Rindu barangkali dapat disejajarkan dengan karya-karya Helvy Tiana Rosa –salah satu di antara sedikit penulis FLF yang lebih banyak menulis ‘fiksi sastra’ dari pada ‘fiksi pop Islami’ –seperti terlihat pada cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam Bukavu (Forum Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008).

Mahabbah Rindu adalah novel ke-tujuh dari Abidah el Khalieqy yang telah diterbitkan. Novel-novel Abidah lainnya yang sudah terbit, antara lain Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Geni Jora (2004), dan Nirzona (2007). Naskah Geni Jora terpilih sebagai juara kedua Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2004.

Sebagaimana novel-novel Abidah sebelumnya, Mahabbah Rindu juga ditaburi narasi-narasi yang sangat puitis. Judul dan subjudul di dalamnya pun rata-rata puitis. Bahkan, novel ini dibuka dengan empat baris puisi, untuk kemudian masuk ke narasi adegan rukuk dan sujud sang tokoh utama (aku) di tengah malam:

Duhai cahaya mata, engkau rinduku cuma
Harapan hidupku, kebahagiaan dan kesedihanku
Sebab hatiku enggan mencinta segala
Selain dirimu, cermin kesempurnaanmu

Dengan begitu, terbitnya novel Mahabbah Rindu memperkuat fenomena fiksi (cerpen dan novel) puitis dalam khasanah sastra Indonesia, yang juga terasa pada karya-karya Helvy Tiana Rosa, Oka Rusmini, Maroeli Simbolon, Azhari, Ucu Agustin, Raudal Tanjung Banua, dan umumnya para cerpenis yang juga merangkap sebagai penyair.

Selain banyak menulis cerpen dan novel, Abidah memang dikenal sebagai salah satu penyair nasional yang cukup kuat dengan sajak-sajak religiusnya. Seperti juga Helvy –yang juga dikenal sebagai penyair– cita-rasa bahasa yang puitis sangat mempengaruhi Abidah dalam menulis fiksi, dan ini menambah cita rasa sastrawi cerpen-cerpen dan novel-novelnya.

Terbitnya Mahabbah Rindu juga makin memperkuat posisi Abidah dalam tradisi penulisan fiksi Indonesia. Dengan novel-novelnya, dan dengan kemenangannya dalam sayembara novel DKJ, tidak berlebihan jika Abidah dianggap sebagai salah satu novelis terbaik di Indonesia. Novel-novelnya bahkan dapat dianggap sebagai salah satu puncak fiksi sastra Islami –bukan fiksi pop Islami.

Ketika dalam beberapa seminar dan diskusi saya menyebut Ayat-Ayat Cinta sebagai puncak fenomena fiksi Islami, yang saya maksud adalah fiksi Islami dalam genre fiksi pop atau fiksi pop Islami, bukan fiksi Islami secara keseluruhan.

Penyebutan itu pun masih debatable, karena masih banyak karya-karya fiksi pop Islami lain yang tak kalah menarik, semisal karya-karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Gola Gong, Izzatul Jannah, dan Afifah Afra. Sebenarnya, penyebutan itu lebih berkait pada kemampuan Ayat-Ayat Cinta dalam merebut selera pasar, sehingga secara mengejutkan menjadi mega bestseller. Dan, kini Ayat-Ayat Cinta pun dibayang-bayangi oleh Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang dari segi kualitas kesastraan relatif lebih bagus.

Jika berbicara tentang fiksi Islami secara keseluruhan dan dalam arti luas, maka kita akan menemukan puncak-puncak lain, seperti karya-karya Danarto, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, dan M Fudoli Zaini –untuk menyebut beberapa saja dari kalangan penulis senior. Sedangkan untuk penulis generasi muda kita dapat menyebut karya-karya Abidah, Helvy, Azhari, dan Ucu Agustin.
Baca Lengkapnya....