Manneke Budiman Menanggapi Esai Ahmadun YH

Coba perhatikan baik-baik asesmen Ahmadun Yosi Herfanda terhadap novel AAC:

KEUNGGULAN:
Kekuatan pertama ya judulnya, seperti yang saya jelaskan tadi. Kedua, pada keteladanan tokoh Fahri. Menurut saya, ini merupakan puncak idealisasi fenomena fiksi islam. Saat itu kan lagi fiksi Islami berkembang sebagai sebuah fenomena. Kita belum menemukan puncaknya seperti apa. Kemudian muncullah Ayat-Ayat Cinta dengan mengangkat teladan tokoh yang menarik.

Teladan tokoh ini penting bagi pembaca muda maupun pembaca perempuan dan keluarga yang memang merindukan bacaan yang mencerahkan. Fahri ini mengandung keteladaan, bisa jadi teladan perjuangan, sikap keislaman. Dan itu ternyata pas untuk kebutuhan pembaca.

Kekuatan ketiga, romantismenya. Ini novel romantis yang Islami. Jarang kisah cinta segiempat didekati secara Islami. Di novel itu kan, pergaulan mereka sangat Islami.Ternyata masyarakat kita masih terpikat atau terpesona kisah yang romantis. Yang namanya novel romantis selalu laris. Misalnya novelnya Hamka.

KEKURANGAN
Kekurangan? Pendekatan sastra murni belum masuk ke sana. Nilai sastra agak kurang. Tapi sebagai novel pop yang Islami cukup kuat. Dalam pengkajian forum sastra yang akademis, novel ini dianggap novel pop saja, seperti karya La Rose dan Marga T, cuma Islami.

Sebagai novel pop yang romantis, tokohnya memang tidak beda jauh dengan dongeng, di mana yang dihadirkan tokoh impian. Ya laki-laki ideal menurut penulisnya ya seperti Fahri. Dalam realitasnya nggak ada. Namanya dongeng kan tidak membumi seperti cverita pangeran katak itu.

AMATAN SAYA: pada sisi KEUNGGULAN, Ahmadun bersifat ambigu sebab ia di satu pihak menganggap romantisme sebagai sebuah kekuatan, sambil di lain pihak mengaitkannya dengan rendahnya selera masyarakat pembaca Indonesia yang masih mudah terpikat oleh romantisme. Bahkan, romantisme ini lalu ia kategosikan sebagai kelemahan novel AAC pada sisi KEKURANGAN, karena menawarkan mimpi yang realitasnya tak ada.

Ahmadun lebih jauh bahkan menganggap karya ini tak punya nilai sastra yang tinggi, dan levelnya cuma sederajat sama deongeng, tidak membumi. Laki-laki seperti Fahri tak ada dalam dunia nyata.

PERTANYAANNYA: Bagaimana karya ini lalu dengan demikian cepat dan mudah dikatakan sebagai "Puncak Fiksi Islam"? Ini tampaknya seperti pujian, tapi sesungguhnya bisa dibaca pula sebagai pelecehan terhadap pencapaian fiksi Islami di Indonesia.

Masa Ahmadun tidak familiar dengan karya-karya Islami lain seperti buah tangan para penulis FLP (Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia) atau Abidah El-Khalieqy? Karya-karya mereka jauh lebih kompleks dan berbobot daripada AAC. Islam yang disiarkan dalam karya-karya itu juga lebih konsisten dan setia dengan Qur'an (jika kandungan Islam dijadikan titik tolak asesmen).

Selanjutnya, KOREKSI: Tidak benar jika dikatakan para penulis dari FLP memuji-muji AAC. Asma Nadia punya kritik yang tajam dan cukup valid terhadap AAC, khususnya dalam idealisasi Fahri yang berlebihan dan tak masuk akal. Dan Asma Nadia adalah seorang dedengkot FLP!
Baca Lengkapnya....

Endorsement

Belakangan, saya sangat sering diminta untuk memberi endorsement pada buku yang hendak diterbitkan. Karena sibuk, sehingga tidak mungkin untuk membaca buku yang perlu saya beri endorsement itu, dengan berat hati sering saya menolaknya.
Ada pula yang semula saya sanggupi, naskah bukunya saya simpan guna mencari waktu terbaik untuk membacanya. Tapi, lagi-lagi karena sibuk atau lupa, tahu-tahu sudah lewat sekian bulan, dan buku tersebut telah terbit. Terbayanglah, wajah pengarangnya yang kesal, karena permintaan endorsement-nya terkesan saya abaikan.

Endorsement ada juga yang menyebutnya testimoni– kini seakan menjadi sesuatu yang mutlak ada untuk mengantarkan buku baru kepada publiknya. Seakan, tanpa pengantar pendek pada sampul depan maupun belakang buku itu, sebuah buku menjadi kurang lengkap. Nyaris hampir tiap buku saat ini dilengkapi endorsement.

Bahkan, saking percayanya pada manfaat pengantar pendek tersebut, ada buku yang dilengkapi banyak endorsement, sampai berderet-deret pada sampul depan dan belakang, serta halaman dalam. Seakan penerbit dan pengarangnya tidak yakin kalau tanpa endorsement buku tersebut akan laku dan akan dibaca orang.

Makna leksikal endorsement, sebenarnya adalah pengesahan, pengabsahan, atau persetujuan. Pengantar pendek (umumnya hanya satu alinea) ini biasanya diberikan oleh tokoh yang dikenal atau dipercaya memiliki kapabilitas untuk mengomentari suatu buku.

Jika buku tersebut buku sastra, maka yang dipilih untuk memberikan endorsement adalah kalangan sastrawan, pengamat sastra, kritikus dan akademisi sastra. Sebab, merekalah yang dianggap kapabel untuk menilai ataupun mengantarkan buku sastra kepada publik (pembaca)-nya.

Tetapi, kalau kita amati, endorsement buku-buku sastra baik kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, maupun kumpulan artikel serta esai sastra (juga buku-buku lain) yang terbit di Indonesia tidak selalu diberikan oleh orang-orang yang memiliki kapabilitas seperti dimaksud. Kesannya, jadi pokoknya buku tersebut ada endorsement-nya. Tak peduli diberikan oleh siapa.

Gejala lain, kerap kita temukan endorsement yang kurang pas dengan isi buku, dan kerap pula terlampau memuji. Untuk gejala yang pertama, bisa ditebak bahwa pembuat endorsement belum membaca bukunya secara benar, karena belum punya waktu. Namun, karena diharapkan benar (setengah didesak) oleh penerbit ataupun pengarangnya, maka ia buat endorsement dari hasil pembacaan sepintas yang melompat-lompat.

Sedangkan untuk endorsement terlampau memuji, dapat diduga sang pembuatnya memang sengaja hendak mengangkat atau mempromosikan buku tersebut. Bisa dari inisiatif sendiri, bisa pula atas permintaan penerbit atau pengarangnya. Endorsement menjadi bagian dari alat promosi untuk menarik minat para calon pembacanya. Bahkan bisa jadi endorsement tersebut sudah disiapkan oleh penerbit atau pengarangnya, dan sang tokoh yang namanya bakal dicantumkan di bawah endorsement tinggal menyetujuinya.

Dalam kasus-kasus seperti di atas, sangat tidak pas jika endorsement dianggap sebagai kritik ataupun resensi pendek. Tidak pula cukup pas untuk dianggap sebagai gambaran ringkas atas isi buku. Pengantar pendek tersebut hanya dapat dianggap sebagai pelengkap, alat promosi, atau bahkan sekadar penambah unsur desain grafis agar sampul belakang buku tidak kosong.

Jika kita merujuk pada makna yang sebenarnya, endorsement sebenarnya tidak dapat dibuat dengan sembarangan, tidak pula sekadar dijadikan alat promosi, karena mengandung pertanggungjawaban moral dan intelektual. Apalagi, jika pengantar pendek itu dianggap sebagai testimoni, yang berarti kesaksian atau pemberian kesaksian (atas isi buku).

Dalam konteks makna tersebut, pemberi endorsement harus benar-benar membaca buku sampai selesai serta memahami isi buku, agar komentar pendeknya tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan komentar pesanan yang mengecoh pembaca, atau mempromosikan buku secara berlebihan.
Baca Lengkapnya....

DOA RINAI HUJAN

rintik hujan itulah
yang senantiasa menyampaikan
kasihmu padaku, dan ika-ikan
selalu mendoakan keselamatanku
jika kau tanya makna goyangku
goyangku zikir tersempurna
di antara para kekasih jiwa
angin mengusap bening air telaga
mengazaniku sujud ke pangkuannya
burung-burung itulah
yang selalu menyampaikan
salamku padamu, ketika angin senja
mengusap suntuk zikirku
jika kau tanya agamaku
agamaku agama keselamatan
jika kau tanya makna imanku
imanku iman kepasrahan
hidupku mengakar di jantung tuhan
sukma menyala menyibak kegelapan

pandanglah putik bungaku
nur muhammad mekar sepenuh jiwa
pandanglah daun-daunku
jari-jari tahiyat terucap
tiap akhir persembahan
zikirku zikir kemanunggalan
diri lebur ke dalam tuhan


Jakarta, 1998/2003.
Baca Lengkapnya....

CATATAN SENJA

DI negeri kota: singapura

senja rebah di atap tampenis plaza
langit mengatup, mendekap negeri kota
dalam remang cahaya. gerimis jatuh
dan kau tiba-tiba berkata,

– bergegaslah, hai, pengembara.
saat pemberangkatan segera tiba, ke negeri jauh
tempat sejarah melintas dan bermula.

dalam tergesa, aku jadi lupa
memungut dua helai rambutmu
yang tersisa di lipatan jendela plaza
(dengan mulut bau pizza, tadi sempat
kukecup keningmu di balik temboknya)

tak kuduga, harum parfummu terbawa juga
melintas benua, ke pelataran ayasophia
tapi, siapa aku mesti memanggilmu nanti
ketika langkahku sampai ke negerimu lagi
mei hwa, clara, atau aisah saja?

dalam dirimu, tionghoa, melayu, dan eropa
menyatu jadi bangsa yang begitu
menghargai makna kerja

Singapura, 1997/1999.
Baca Lengkapnya....

CATATAN SENJA DI JENDELA BUS KOTA

Selalu saja berkelebat bayangmu
Di antara kesiur angin, kepul asap dan debu
Tak ada bau parfum yang tersisa
Tak pula patahan helai rambutmu
Tapi di pojok jendela bus kota
Masih mekar juga senyum mawarmu

Kutahu, duniaku sekotor debu
Sehina ketombe yang sesekali mengusam
Pada kilau rambutmu
Tapi pada jantung sekecil debu
Ingin kubingkai luas cakrawala
Bagi kerling matamu

Pernahkah kau rasa juga
Semua yang kurindu?
Ah, kutahu, kutahu, ingatan itu
Telah terhapus jadwal rendesvous
Yang tak terjangkau sisa usiaku

Jakarta, Februari 2007.
Baca Lengkapnya....

CATATAN DINI HARI

:labuhan bilik, riau

Debur ombak dan goyang perahu
Bermain sendiri dalam sepi
Semua yang hidup tertidur
Melipat diri dalam mimpi

Bintang berkaca dalam sunyi
Sebait bulan yang menemaniku
Pun hendak undur diri

Bersama angin dini hari
Kucoba untuk bernyanyi
Mengirim rindu termanis
Sebelum bunuh diri

Bulan pun pergi
Dan perahu nelayan
Tak pernah kembali

Rokan Hilir, Maret 2007.
Baca Lengkapnya....

INDONESIA, AKU MASIH TETAP MENCINTAIMU

Indonesia, aku masih tetap mencintaimu
Sungguh, cintaku suci dan murni padamu
Ingin selalu kukecup keningmu
Seperti kukecup kening istriku
Tapi mengapa air matamu
Masih menetes-netes juga
Dan rintihmu pilu kurasa?

Burung-burung bernyanyi menghiburmu
Pesawat-pesawat menderu membangkitkanmu
Tapi mengapa masih juga terdengar tangismu?
Apakah kau tangisi hutan-hutan
Yang tiap hari digunduli pemegang hapeha?
Apakah kau tangisi hutang-hutang negara
Yang terus menumpuk jadi beban bangsa?
Apakah kau tangisi nasib rakyatmu
Yang makin tergencet kenaikan harga?
Atau kau sekadar merasa kecewa
Karena rupiahmu terus dilindas dolar amerika
Dan IMF, rentenir kelas dunia itu,
Terus menjerat dan mengendalikan langkahmu?

Ah, apapun yang terjadi padamu
Indonesia, aku tetap mencintaimu
Ingin selalu kucium jemari tanganmu
Seperti kucium jemari tangan ibuku
Sungguh, aku tetap mencintaimu
Karena itulah, ketika orang-orang
Ramai-ramai membeli dolar amerika
Tetap kubiarkan tabunganku dalam rupiah
Sebab sudah tak tersisa lagi saldonya!

Jakarta, 1997/2008
Baca Lengkapnya....

DI BAWAH LANGIT MALAM


——— purworejo
kucium kening bulan
dalam sentuhan dingin angin malam
ayat-ayat tuhan pun tak pernah bosan
memutar planet-planet dalam keseimbangan
langit yang membentang
menenggelamkanku ke jagat dalam
kutemukan lagi ayat-ayat tuhan
inti segala kekuatan putaran
jagad yang menghampar
membawaku ke singgasana rahasia
pusat segala energi dan cahaya
membebaskan jiwa
dari penjara kefanaannya
kucium lagi kening bulan
engkau pun tersenyum
dalam penyerahan

1983

(diambil dari buku : SEMBAHYANG RUMPUTAN karya Ahmadun Y Herfanda, penerbit Bentang Budaya, cetakan pertama, Mei 1996)
Baca Lengkapnya....

Sastra, MPU, dan Persoalan Lingkungan

Masalah lingkungan dan jejak alam pada sastra menjadi tema penting dalam Temu Sastra III Mitra Praja Utama (MPU), yang berlangsung di Hotel Panorama Lembang, Bandung, 4-6 November 2008. Selain menempatkan sastra dan lingkungan hidup sebagai tema acara, jejak alam pada sastra menjadi salah satu tema diskusi.

Persoalan lingkungan, seperti diakui Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf saat membuka acara, memang sedang menjadi perhatian Pemda Provinsi Jabar. Mengikuti semangat peduli lingkungan itu, temu sastra yang diikuti oleh sekitar 60 sastrawan dan peminat sastra dari 10 provinsi anggota MPU itu pun mengambil tema tentang lingkungan.

Temu Sastra MPU yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jabar itu merupakan yang ke-tiga. Untuk pertama kali, Temu Sastra MPU diadakan di Anyer, Banten, dan yang kedua diadakan di Pantai Sanur, Bali — diselenggarakan oleh Pemprov masing-masing.

Temu sastra ini diselenggarakan secara bergiliran oleh 10 provinsi anggota MPU. Semula dua tahun sekali, namun kini menjadi setahun sekali dan tahun depan (2009) giliran Pemprov Jawa Tengah sebagai penyelenggara — direncanakan akan digelar di kawasan Borobudur.

Peserta Temu Sastra MPU cukup terbatas. Tiap provinsi hanya mendapat jatah lima peserta (4 sastrawan dan 1 birokrat) yang akomodasinya ditanggung Panitia. Jika akan menambah jumlah peserta, maka menjadi tanggungan Pemprov masing-masing. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta selalu mengirimkan peserta terbanyak. Tahun ini, misalnya, mengirimkan 15 peserta (11 sastrawan dan 4 birokrat).

Menu utama Temu Sastra MPU meliputi diskusi, pentas sastra (baca puisi dan cerpen), sidang peserta, serta wisata budaya. Di Bandung, temu sastra ini mencatatkan satu langkah maju dengan diterbitkannya dua buku karya peserta yang merupakan salah satu rekomendasi dari Temu Sastra MPU Bali — yakni buku kumpulan cerpen Sebelum Meledak dan kumpulan puisi Tangga Menuju Langit.

Sedikitnya delapan pembicara ditampilkan pada Temu Sastra MPU Bandung. Maman S Mahayana dan Safrina Noorman membahas jejak alam dalam sastra Indonesia, M Irfan Hidayatullah dan Warih Wisatsana membahas peran komunitas sastra, Beni Setia membahas pengaruh lingkungan dalam proses kreatif, Triyanto Triwikromo membahas sastra dan dunia maya, Jakob Sumarjo membahas manusia dan pantun Sunda, serta Bambang Sugiharto membahas manusia Indonesia dalam sastra mutakhir.

Jejak alam

Sesuai dengan tema acara, sesi diskusi yang menampilkan Maman S Mahayana dan Safrina Noorman penting untuk disimak. Maman membahas jejak alam dalam prosa Indonesia, sedangkan Safrina membahas jejak alam dalam puisi Indonesia.Karya sastra, menurut Maman, selalu mengungkapkan empat konflik laten yang dihadapi manusia: konflik dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan Tuhan.
Jika sastra (novel) diyakini sebagai representasi gagasan sastrawannya ketika berhadapan dengan serangkaian konflik itu, maka jejak alam dalam novel Indonesia mutakhir, kata Maman, laksana potret masyarakat Indonesia dalam memandang dan memperlakukan alam.Dalam hampir semua novel Indonesia, yang coba menempatkan alam tidak sekadar sebagai latar cerita tetapi juga sebagai masalah yang coba diangkatnya, alam bukanlah ancaman yang menakutkan. “Karena itu, alam tidak diperlakukan sebagai problem yang serius,” kata Maman.

Bahkan, dalam banyak puisi Indonesia, tambah Maman, alam justru menjadi objek yang penuh pesona, yang inspiring. Maka, jejak alam dalam sastra Indonesia adalah ekspresi kekaguman, keterpesonaan, dan hasrat melakukan persahatan dengan alam. “Alam dalam sastra Indonesia tak tersentuh sebagai problem yang serius,” ujarnya.

Dalam puisi, tambah Safrina, alam disikapi secara kontekstual terikat pada ruang dan waktu. Jika pada masa Pujangga Baru muncul puisi-puisi yang memuja alam dalam kerangka pembangunan bangsa dan tanah air, maka dalam perkembangannya alam hadir untuk menyuarakan penindasan atas alam dan berbagai masalah yang terkait dengannya.”Penghadiran alam dalam puisi masa kini menyiratkan posisi manusia dalam hubungan mereka dengan alam dan bagaimana sikap serta pandangan mereka terhadap alam,” ujar Safrina.

Rekomendasi

Sidang peserta yang diikuti wakil-wakil dari 10 provinsi, dan dipimpin oleh ketua panitia pelaksana Acep Zamzam Noor serta anggota tim kurator Ahda Imran, menghasilkan sembilan rekomendasi. Antara lain, mendukung keputusan MPU untuk menyelenggarakan Temu Sastra MPU setahun sekali, serta memutuskan Provinsi Jawa Tengah sebagai penyelenggara Temu Sastra IV MPU tahun 2009, dan Provinsi Lampung sebagai penyelenggara Temu Sastra V MPU tahun 2010.

Sidang juga merekomendasikan agar tiap provinsi anggota MPU membentuk Mitra Sastra MPU yang bertugas membantu Dinas terkait dalam memilih peserta Temu Sastra MPU dari provinsi masing-masing. Dalam hal ini, sidang juga merekomendasikan agar ada regenerasi sastrawan peserta Temu Sastra MPU dengan tetap melihat karya sebagai pertimbangan utama.

Guna membantu keberangkatan peserta, sidang juga menegaskan kewajiban tiap Pemprov anggota MPU untuk membiayai peserta Temu Sastra MPU dari provinsi masing-masing. Tiap provinsi anggota MPU wajib mengirimkan minimal 7 orang peserta yang terdiri dari 5 orang sastrawan dan 2 orang birokrat dari Dinas terkait.

Direkomendasikan pula agar ada pengamat dari Sekretariat Bersama (Sekber) MPU yang bertugas untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan Temu Sastra MPU, serta perlunya ada sesi diskusi yang menghadirkan pihak Sekber MPU dan birokrat dari Dinas terkait. Sidang juga merekomendasi Trianto Triwikromo serta Dorothe Rosa Herliany untuk menjadi anggota kurator Temu Sastra IV MPU. Penunjukan anggota kurator lainnya dipercayakan kepada Pemprov Jawa Tengah.

Pertunjukan sastra di teras Hotel Panorama berlangsung dua malam berturut-turut. Hampir semua peserta mendapat giliran untuk membacakan karya-karya mereka — puisi dan penggalan cerpen. Dengan cukup memukau, Dede Yusuf pun dua kali tampil membacakan sajak. Penampilan pertama sendiri, dan penampilan kedua berduet dengan penyair Dina Oktaviani.
Baca Lengkapnya....

Novel Mahabbah Rindu dan Puncak Fiksi Islami

Sebuah ‘novel sastra’ yang Islami hadir lagi dari seorang perempuan Muslim penulis: Mahabbah Rindu karya Abidah el Khalieqy. Novel setebal 404 halaman terbitan Diva Pres (Yogyakarta, November 2007) ini menambah kekayaan khasanah fiksi Indonesia kontemporer yang masih tetap diramaikan oleh karya-karya para perempuan penulis.

Dengan label novel inspiratif pencarian kebenaran iman Abidah mencoba menyajikan fiksi Islami yang agak lebih dalam dan serius (nyastra) dibanding novel-novel pop Islami semisal Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy ataupun novel-novel pop Islami lain karya para penulis dari Forum Lingkar Pena (FLP).

Bobot kesastraan Mahabbah Rindu barangkali dapat disejajarkan dengan karya-karya Helvy Tiana Rosa –salah satu di antara sedikit penulis FLF yang lebih banyak menulis ‘fiksi sastra’ dari pada ‘fiksi pop Islami’ –seperti terlihat pada cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam Bukavu (Forum Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008).

Mahabbah Rindu adalah novel ke-tujuh dari Abidah el Khalieqy yang telah diterbitkan. Novel-novel Abidah lainnya yang sudah terbit, antara lain Ibuku Laut Berkobar (1987), Perempuan Berkalung Sorban (2000), Menari di Atas Gunting (2001), Atas Singgasana (2002), Geni Jora (2004), dan Nirzona (2007). Naskah Geni Jora terpilih sebagai juara kedua Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2004.

Sebagaimana novel-novel Abidah sebelumnya, Mahabbah Rindu juga ditaburi narasi-narasi yang sangat puitis. Judul dan subjudul di dalamnya pun rata-rata puitis. Bahkan, novel ini dibuka dengan empat baris puisi, untuk kemudian masuk ke narasi adegan rukuk dan sujud sang tokoh utama (aku) di tengah malam:

Duhai cahaya mata, engkau rinduku cuma
Harapan hidupku, kebahagiaan dan kesedihanku
Sebab hatiku enggan mencinta segala
Selain dirimu, cermin kesempurnaanmu

Dengan begitu, terbitnya novel Mahabbah Rindu memperkuat fenomena fiksi (cerpen dan novel) puitis dalam khasanah sastra Indonesia, yang juga terasa pada karya-karya Helvy Tiana Rosa, Oka Rusmini, Maroeli Simbolon, Azhari, Ucu Agustin, Raudal Tanjung Banua, dan umumnya para cerpenis yang juga merangkap sebagai penyair.

Selain banyak menulis cerpen dan novel, Abidah memang dikenal sebagai salah satu penyair nasional yang cukup kuat dengan sajak-sajak religiusnya. Seperti juga Helvy –yang juga dikenal sebagai penyair– cita-rasa bahasa yang puitis sangat mempengaruhi Abidah dalam menulis fiksi, dan ini menambah cita rasa sastrawi cerpen-cerpen dan novel-novelnya.

Terbitnya Mahabbah Rindu juga makin memperkuat posisi Abidah dalam tradisi penulisan fiksi Indonesia. Dengan novel-novelnya, dan dengan kemenangannya dalam sayembara novel DKJ, tidak berlebihan jika Abidah dianggap sebagai salah satu novelis terbaik di Indonesia. Novel-novelnya bahkan dapat dianggap sebagai salah satu puncak fiksi sastra Islami –bukan fiksi pop Islami.

Ketika dalam beberapa seminar dan diskusi saya menyebut Ayat-Ayat Cinta sebagai puncak fenomena fiksi Islami, yang saya maksud adalah fiksi Islami dalam genre fiksi pop atau fiksi pop Islami, bukan fiksi Islami secara keseluruhan.

Penyebutan itu pun masih debatable, karena masih banyak karya-karya fiksi pop Islami lain yang tak kalah menarik, semisal karya-karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Gola Gong, Izzatul Jannah, dan Afifah Afra. Sebenarnya, penyebutan itu lebih berkait pada kemampuan Ayat-Ayat Cinta dalam merebut selera pasar, sehingga secara mengejutkan menjadi mega bestseller. Dan, kini Ayat-Ayat Cinta pun dibayang-bayangi oleh Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang dari segi kualitas kesastraan relatif lebih bagus.

Jika berbicara tentang fiksi Islami secara keseluruhan dan dalam arti luas, maka kita akan menemukan puncak-puncak lain, seperti karya-karya Danarto, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, dan M Fudoli Zaini –untuk menyebut beberapa saja dari kalangan penulis senior. Sedangkan untuk penulis generasi muda kita dapat menyebut karya-karya Abidah, Helvy, Azhari, dan Ucu Agustin.
Baca Lengkapnya....

‘Menyatukan’ Nusantara dalam Pesta Sastra

Salah satu keputusan penting dan paling strategis dari International Poetry Gathering dalam Pesta Penyair Nusantara 2008 di Kediri, awal Juli 2008 lalu, adalah diteruskannya iven tersebut sebagai forum tahunan para penyair di Nusantara — Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina. Keputusan tersebut sangat strategis, karena dapat ‘menyatukan’ para penyair — dan pecinta sastra — se Nusantara dalam semangat bersastra yang sama, yakni membangun peradaban masyarakat yang maju, moderat, adil, demokratis, religius, dan berjati diri, lewat sastra.

“Kami, wakil dari Malaysia sepakat untuk meneruskan iven ini sebagai tradisi tahunan, karena dalam iven ini sastrawan Indonesia dan Malaysia dapat bersatu untuk bersama-sama membangun peradaban Nusantara, tanpa terpengaruh persoalan politik dan konflik kepentingan,” kata SM Zakir, Sekjen Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA), yang menjadi salah satu panelis gathering tersebut.

Sejak pertama kali diadakan di Medan — oleh Laboratirium Sastra Medan serta Dinas Kebudayaan dan Priwisata Medan — tahun 2007, gathering menjadi mata acara terpenting pesta sastra tersebut, selain seminar internasional, workshop proses kreatif, dan panggung baca puisi para penyair Nusantara.

Tahun lalu, Pesta Penyair Indonesia Medan 2007 sempena The 1st Medan International Poetry Gathering telah menetapkan iven ini sebagai forum (wadah) bersama para penyair Nusantara, dan akan diselenggarakan setahun sekali secara bergilir di daerah-daerah serta negara asal para peserta.

Dalam gathering di Medan itu pula nama pesta penyair ini disempurnakan menjadi Pesta Penyair Nusantara …, The … International Poetry Gathering. Tanda titik-titik (…) diisi tahun pelaksanaan, dan kali keberapa serta di kota mana iven tersebut diselenggarakan.

Sehingga, di Kediri, nama iven ini menjadi Pesta Penyair Nusantara 2008, sempena The 2nd Kediri International Poetry Gathering. Dan, tahun depan, akan menjadi Pesta Penyair Nusantara 2009, sempana The 3nd Kualalumpur International Poetry Gathering, karena telah disepakati tahun depan akan diadakan di ibukota negeri jiran, Malaysia.

Sejarah

Dengan kesepakatan strategis tersebut, berarti Kediri telah ikut mencatatkan sejarah penting atas tradisi tersebut, dan berjasa ikut mempertahankannya.

Karena, dengan ‘Kesepakatan Kediri’ itu, tradisi tahunan tersebut dapat terus bergulir untuk mencari bentuknya yang makin sempurna dan memberikan manfaat yang makin besar bagi tradisi kreatif dan kehidupan sastra di Nusantara.

Maka, impaslah sudah, jerih payah ketua panitia pelaksana Khoirul Anwar yang tetap bertekad melaksanakan pesta sastra tersebut sesuai rencana, meskipun sempat mengalami kecelakaan yang fatal dan masih harus memakai tongkat sampai acara tersebut selesai, serta sempat menghadapi kesulitan berat dalam mencari dana untuk biaya acara.

Juga tidak dapat dilupakan kerja keras Jack Ponadi Efendi Santoso sebagai sekretaris panitia, Subardi Agan sebagai editor dan pembantu utama di balik layar, serta Sarah Serena selaku anggota panitia ad hoc yang rela hijrah sementara dari Jakarta ke Kediri meski masih pengantin baru.

Meskipun terkesan kurang perfect dalam memanaj acara dan sempat mengecewakan beberapa peserta, penghargaan yang setimpal tetap patut diberikan atas tekad, ketabahan dan kerja keras Khoirul Anwar dan kawan-kawannya tersebut. Tentu, juga penghargaan kepada pihak-pihak yang akhirnya membantu pelaksanaan pesta sastra tersebut, seperti walikota Kediri, bupati Kediri, rektor Unik (Universitas Kediri — bukan Universitas Islam Kediri), direktur DohoTV, sejumlah anggota DPRD Kediri, serta berbagai pihak lain yang turut menyukseskan acara tersebut.

Penghargaan yang tinggi patut pula diberikan kepada para pembicara seminar dan workshop, pembaca puisi, anggota tim adviser dan ad hoc, serta para peserta dari berbagai daerah dan negara tetangga di Nusantara, yang tetap bersemangat untuk hadir meski harus membiayai perjalannya ke Kediri dengan isi dompet sendiri atau harus meminta bantuan dana dari sana sini atas upayanya sendiri.

Memang masih begitulah realitas kehidupan sastra di Nusantara, khususnya Indonesia. Iven-iven penting sastra masih sulit untuk mendapatkan sponsor dan pendanaan yang cukup dari pemerintah, sehingga harus dilaksanakan secara bergotong-royong — susah-senang dipikul bersama oleh para sastrawan, penyair, apresian, dan mereka yang terlibat di dalamnya.

Karena itu, tidak berlebihan jika mereka disebut sebagai para ‘pejuang sastra’ yang dedikasi dan semangat juangnya untuk ikut membangun peradaban bangsa lewat sastra lebih tinggi dibanding pejabat negara, pegawai negeri dan angkatan bersenjata. Mereka bukan saja para pahlawan tanpa tanda jasa, tapi juga tanpa gaji bulanan.

Maka, sampai bertemu lagi di Kuala Lumpur tahun 2009, hai para pejuang sastra! Dalam sastra kita bersatu, bersama, serasa dan sejiwa!( )
Baca Lengkapnya....

Sastra Perlawanan dan Ideologi Penciptaan

Dunia kaum pekerja (buruh) yang tertindas masih penting untuk disuarakan, agar jeritan mereka didengar dan nasib mereka menjadi lebih baik. Salah satu media terpenting untuk menyuarakan dunia kaum pekerja itu adalah sastra, terutama puisi, yang di kalangan buruh pabrik Tangerang, Banten, kini nyaris menjadi ekspresi sehari-hari untuk menyuarakan hati nurani mereka.
Dengan orientasi penciptaan yang cenderung pragmatik, di kalangan buruh pabrik Tangerang, sastra telah cukup lama menjadi semacam ‘media perlawan’ terhadap penindasan dan ketidakadilan yang menimpa kaum pekerja. Para aktifis ‘pembela kaum buruh’ seperti Wowok Hesti Prabowo dan Mahdi Duri (keduanya juga dikenal sebagai penyair buruh) berhasil memobilisasi cukup banyak buruh pabrik yang berbakat menulis puisi untuk memanfaatkan karya-karya mereka sebagai ‘media perlawanan’ itu.

Pemanfaatan puisi sebagai ‘media perlawanan’ tampak sekali, misalnya pada sajak-sajak Husnul Khuluqi — penyair buruh Tangerang terpenting saat ini. Sajak-sajaknya yang terkumpul dalam Romansa Pemintal Benang (Komite Sastra Dewan Kesenian Tangerang dan Komunitas Sastra Indonesia, 2006), dapat disebut sebagai contoh.

Berbeda dengan sajak-sajak para penyair buruh Tangerang pendahulunya, seperti Dingu Rilesta dan Wowok Hesti Prabowo — misalnya dalam Buruh Gugat (Wowok, 1998) yang rata-rata kurang berhasil mengemas ‘sajak-sajak buruh’ mereka secara apik — sajak-sajak Husnul Khuluqi memperlihatkan pencapaian estetik yang cukup mengesankan. Tipografinya tertata rapi, dengan bait-bait dan baris-baris sajak yang teratur, dengan imaji-imaji yang lugas dan sederhana tapi utuh, serta dengan irama bahasa yang terjaga.

Sebagai bagian dari gerakan sastra buruh, orientasi pragmatik sajak-sajak Husnul Khuluqi memang terasa sangat kuat. Sajak (karya sastra) cenderung dianggap sebagai media untuk mencapai tujuan non-literer tertentu, misalnya, sebagai sarana penyadaran dan pendorong perubahan sosial di kalangan kaum buruh. Tapi, ia dapat mengimbangi tujuan pragmatik itu dengan orientasi estetik yang cukup kuat pula. Sehingga, meskipun kritiknya terhadap kaum majikan begitu tajam dan potretnya tentang nasib kaum buruh begitu mencekam, ia tetap dapat mengemasnya dalam sajak-sajak yang indah. Sajak-sajak Husnul dapat disejajarkan dengan sajak-sajak Jumari HS, tokoh ‘penyair buruh’ dari Kudus, yang juga menampakkan pencapaian estetik yang cukup mengesankan.

Dua kutipan sajak Husnul berikut ini, sebagai contoh, sederhana sekali, tapi sangat tajam dan mengesankan. Potret buruh yang tidak berdaya dalam tekanan kaum majikan (juragan) yang ‘mengusir’ Tuhan dari pabrik:

sering kurindu tuhan
dalam galau perasaan
tapi wajah juragan yang kutemukan
yang selalu menatap dingin
sedingin bebatuan
di dasar kali

(Sajak Di Pabrik, Wajah Tuhan Diganti Juragan)

Kalangan pragmatik — yang lebih memandang karya sastra dari sisi manfaat non-literernya — berkeyanikan bahwa karya sastra tidak hanya dapat memberikan pencerahan nurani dan intelektualitas pembacanya. Lebih dari itu, karya sastra juga diyakini mampu membangun suatu kesadaran sosial untuk mendorong terjadinya proses perubahan masyarakat dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik.

Secara teoritis, orientasi pragmatik itu dapat dirujukkan pada pemikiran Abrams (1981) tentang orientasi penciptaan. Berdasarkan tujuan penciptaannya, Abrams mengelompokkan karya sastra ke dalam empat orientasi. Pertama, karya sastra sebagai tiruan alam atau penggambaran alam. Kedua, karya sastra sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya. Ketiga, karya sastra sebagai pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawannya. Dan, keempat, karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekeliling, pembaca maupun pengarangnya.

Pada ‘orientasi kedua’ Abram tersebut, karya sastra dipandang sebagai media untuk tujuan-tujuan yang cenderung pragmatis. Misalnya saja, sastra untuk sosialisasi ajaran agama (sastra dakwah), sastra untuk penyadaran dan pendorong perbaikan nasib buruh (sastra buruh), atau sastra untuk membangun ideologi politik tertentu (sastra realisme sosial). Jika ‘sastra seksual’ seperti karya-karya Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu dengan sengaja memang ditulis untuk membongkar nilai-nilai moral, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru yang liberal, sebenarnya dapat juga ditempatkan pada orientasi pragmatik itu.

Sebenarnya, apapun orientasi penciptaan karya sastra, karena merupakan sekumpulan sistem tanda yang menyimpan makna, ia akan memiliki kemampuan tersembunyi (subversif) untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran, dan karena itu dapat ikut mendorong terjadinya proses perubahan, baik yang bersifat pencerahan, pembongkaran nilai-nilai lama dan menggantikannya dengan nilai-nilai baru, atau sebaliknya mempertahankan nilai-nilai lama itu dari gempuran nilai-nilai baru yang dianggap sebagai ancaman sehingga muncul semacam ‘konservatisme dalam sastra’.

Kenyataannya, selalu terjadi dialektika antara nilai-nilai yang ada di masyarakat dan nilai-nilai yang ditawarkan karya sastra. Ketika masyarakat dianggap berada dalam ‘peradaban jahiliyah’ misalnya, maka munculnya sastra religius, termasuk sastra sufistik dan sastra Islami, akan dianggap menawarkan pencerahan untuk menyelamatkan masyarakat dari kehancuran moral. Ketika masyarakat dianggap berada dalam sikap konservatif yang cenderung jumud, maka karya sastra yang bersemangat membongkar nilai-nilai akan dianggap menawarkan pembaruan. Sebaliknya, karya sastra yang bersemangat membela kemapanan itu akan dianggap mendukung establishment.

Dalam situasi yang dialogis seperti itu, kadang-kadang kebenaran nilai tematik (isi) karya sastra menjadi relatif, tergantung di mana karya itu diposisikan dan peradaban masyarakat seperti apa yang dicita-citakan bersama. Bagi kaum Marxis (Lekra), misalnya, kebenaran karya sastra dilihat dari komitmennya untuk membela politik kekuasaan dan ideologi Marxis, dengan semangat pertentangan kelas yang tajam.

Sebaliknya, bagi kaum Manifes (pendukung Manifes Kebudayaan) kebenaran karya sastra dilihat dari komitmennya untuk menyuarakan masalah-masalah kemanusiaan yang bersifat universal, sehingga bersifat lebih plural dan fleksibel dalam menyuarakan kebenaran. Kebenaran nilai karya sastra baru menjadi mutlak ketika sang pengarang menempatkan karyanya dalam sekat kepercayaan atau keberagaman secara tertutup (eksklusif), sehingga muncul apa yang disebut ‘sastra hitam putih’.

Dalam kasus sajak-sajak para ‘penyair buruh’ seperti Husnul, Wowok, Mahdi dan Dingu, yang sering terasa adalah ‘semangat perlawanan’ terhadap penindasan dan ketidakadilan yang menimpa kaum buruh. Buruh, di mata mereka, adalah kaum yang tertindas. Sedangkan majikan adalah penindas yang harus dilawan. Di mata mereka, kaum pekerja selalu berada pada posisi yang lemah, tidak berdaya, selalu dikalahkan, dan bahkan dikorbankan untuk kepentingan kaum kapitalis (pemilik modal).

Terlihat ada semacam simplifikasi terhadap kondisi buruh dan perilaku majikan, yang tentu tidak selalu pas untuk semua kondisi perburuhan di Indonesia. Meskipun kaum buruh Indonesia umumnya masih tertindas dengan gaji kecil dan jaminan sosial yang kurang memadai, sudah banyak juga pekerja yang hidup sejahtera dan majikan yang adil serta bijaksana.

Pada salah satu sajaknya, Husnul Khuluqi bahkan mengibaratkan kaum buruh sebagai ‘kayu kering’ yang harus rela dibakar (dikorbankan) agar cerobong asap pabrik terus berasap — agar pabrik terus dapat beroperasi dan kaum majikan (kapitalis) dapat mengeruk keuntungan dari pengorbanan kaum buruh (pekerja):

di bawah cerobong asap, bertahun kita hanya
menemukan jejak-jejak hitam, catatan kelam, dan
luka menahun yang menggumpal di lorong-lorong
ingatan, mengekal di antara napas yang penuh sengal
di sini, ya di sini, kita hanya setumpuk kayu
api kering yang mesti rela dibakar agar cerobong
cerobong kekar itu terus menyemburkan asap, dan
kita akan mati dengan nasib yang sehitam arang
(Sajak Di Bawah Cerobong Asap, Kita hanya Kayu Kering)

Dengan sikap dan orientasi penciptaan seperti itu, sering tercium aroma ‘pertentangan kelas’ — kelas buruh dan kelas majikan — pada sajak-sajak penyair buruh yang realis-sosialistik itu. Tetapi, tentu, tidak setiap pembelaan terhadap kaum tertindas, tidak setiap perlawanan terhadap ketidakadilan, harus dikaitkan dengan ideologi Marxis. Sebab, masalah penindasan dan ketidakadilan sebenarnya juga menjadi masalah kemanusiaan yang universal. Semua agama juga mengajarkan pembelaan (kepedulian) kepada kaum yang lemah dan tertindas. Islam, misalnya, mengajarkan persamaan derajat manusia, sehingga sangat menentang perbudakan, penindasan dan berbagai bentuk ketidakadilan.

Kuatnya sajak-sajak pembelaan terhadap nasib buruh dalam buku Husnul itu makin mengukuhkan posisi para penyair buruh di Indonesia pada umumnya ke dalam barisan ‘penyair pragmatik’ ataumeminjam istilah Ariel heryanto ‘penyair yang terlibat’. Karya sastra tidak sekadar diniatkan sebagai seni berbahasa, tapi juga sebagai media kesaksian, media penyadaran, media pencerahan, bagi pembacanya.
Baca Lengkapnya....

NYANYIAN SENJA SEORANG PENCINTA

jika aku mati, luluhlah bagai air
menyusup tanah dan batu-batu
menumbuhkan pohonan di tamanmu
putik bunga pun bertemu benihku
membuahkan cintamu

jika kau haus, minumlah jiwaku
jika tubuhmu berdaki
mandilah dalam kasihku
ikan-ikan bahagia dalam asuhanku
kafilah gembira menemuku

tiadalah arti hidup jika sekadar hidup
tiadalah arti mati jika sekadar mati
jika hidup tiada sebatas hidup
jika mati pun tiada sebatas mati
(jika tak takut hidup jiwa pun tak takut mati
karena dalam mati jiwa menemu hidup sejati)

jika aku mati, luluhlah bagai air
menyusup akar belukar dan pohonan
katak-katak bahagia dalam sejukku
teratai pun tersenyum
dalam ayunan jiwaku

tiada makna hidup
jika tiada menghidupi
tiada nikmat hidup
jika tiada memberi arti
– jika engkau pelaut
layarkan perahumu
pada keluasan hatiku!

Yogyakarta, 1984/2007.
Baca Lengkapnya....

SAJAK EMBUN

hanya karena cinta embun menetes
dari ujung bulu matamu, membasahi
rumput dan daun-daun, lalu meresap
ke jantungku. cacing-cacing pun berzikir
padamu, mensyukuri kodratnya tiap waktu

siapa yang menolak bersujud padamu
yang tak bersyukur karena karuniamu?
barangkali hanya orang-orang congkak itu
orang-orang yang berjalan dengan kepala
mendongak ke langit sambil melirik
dengan cibiran harimau

hanya karena cinta hujan menetes
dari sudut pelupuk matamu, membasahi rambutku
menyusup ke pori-pori tubuh, syaraf dan nadi
menghijaukan kembali taman hatiku
burung-burungpun bernyanyi karenaku
berzikir dan bersujud padamu
– ya allah, ampuni adaku padamu!

Yogyakarta, 1990/2007.
Baca Lengkapnya....

JALAN RINDU

Di jalan manakah engkau kini menunggu
Kekasih. Begitu panjang jalan kutempuh
Tapi, tak sampai-sampai juga padamu

Berapa abad lagi aku mesti
Menahan nyeri hati tanpamu
Kutanggung sendiri berwindu rindu
Kutahan sendiri sepi tanpamu

Di manakah kini engkau menunggu
Kekasih. Setelah kutinggal khianat tanpamu
Tak tahu lagi kini alamat bagi rinduku
Masih terbukakah pintu untuk kembali
Ke satu cinta hanya padamu?

Jakarta, 2007.
Baca Lengkapnya....

AYAT-AYAT ALAM

berabad-abad wajah tuhan bertaburan
jadi ayat-ayat alam yang berserak pada batu-batu
tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda
berabad-abad wajah tuhan bertaburan
dalam serpihan cinta sekaligus sengketa

berabad-abad pula adam gelisah
mencoba menyatukan wajah tuhan
dalam gambaran seutuhnya. namun
selalu sia-sia ia. sebab, tuhan lebih suka
hadir dalam keelokan yang beraneka

pada keelokan pohon dan keindahan batu
pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung
pada wajah suci seorang bayi dan hangat matahari
dan pada wajah manis seorang istri
tuhan hadir dalam senyum abadi

berabad-abad wajah tuhan bertebaran
pada ayat-ayat alam yang selalu
menemukan tafsir sendiri

Jakarta, 1995/2007.
Baca Lengkapnya....

REINKARNASI

kukembalikan dagingku pada ikan
kuserahkan darahku pada kerang
makanlah milikku, ambil seluruhku
kukembalikan tulangku pada tripang

jika aku mati
hanya tinggal tanah
jiwaku membumbung
ke kekosongan

bertahun-tahun aku mengail
berhutang nyawa pada ikan
berabad-abad aku minum
berhutang hidup pada laut
berwindu-windu aku berlari
berhutang api pada matahari
tiba saatnya nanti kukembalikan
semua hutangku pada mereka

kukembalikan jasadku pada tanah
sukmaku kembali ke tiada
: zat pemilik segalanya!

Jakarta, 1992.
Baca Lengkapnya....

MONOLOG SEORANG VETERAN YANG TERCECER DARI ARSIP NEGARA

Bendera-bendera berkibar di udara
Dan, orang-orang berteriak ‘’telah bebas negeri kita”
Tapi aku tertatih sendiri
Di bawah patung kemerdekaan yang letih
Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi

Kau pasti tak mengenaliku lagi
Seperti dulu, ketika tubuhku terkapar penuh luka
Di sudut stasiun Jatinegara, setelah sebutir peluru
Menghajarku dalam penyerbuan itu
Dan negeri yang kacua mengubur
Sejarah dalam gundukan debu

Setengah abad lewat kita melangkah
Di tanah merdeka, sejak Soekarno-Hatta
Mengumumkan kebebasan negeri kita
Lantas kalian dirikan partai-partai
Juga kursi-kursi kekuasaan di atasnya
Gedung-gedung berjulangan
Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan
Jalan-jalan layang, mengembang bersama
Korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,
Yang membengkakkan perutmu sendiri
Sedang kemiskinan dan kebodohan
Tetap merebak di mana-mana
Dan, aku pun masih prajurit tanpa nama
Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran
Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan
Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman
Tanpa istri simpanan

Meskipun begitu, aku sedih juga
Mendengarmu makin terjerat hutang
Dan keinginan IMF yang makin menggencet
Kebijakan negara.
Karena itu, maaf, saat engkau
menyapaku, “Merdeka!”
Dengan rasa sembilu
Aku masih menjawab, “Belum!”

Jakarta, 1998-2008.
Baca Lengkapnya....

Penyair Dunia Mengaduk Budaya di Sungai Musi

Membaca puisi di atas geladak Kapal Sigentar Alam yang melaju di atas Sungai Musi, Palembang, penyair Emha Ainun Nadjib harus mengandalkan spontanitas dan kemampuan vokalnya melawan deru angin dan suara mesin. Tapi, sajak yang ia rangkai secara spontan di atas kapal cukup apik dan retoris: Palembang,
Aku melihat
para penyembah cinta
dari Belanda, Italia,
Jerman, Australia…
Membawa cinta untuk diaduk
di atas kapal malam ini.
Palembang,
Marilah kita melakukan
pernikahan budaya
melalui puisi…

Emha memang dikenal piawai berimprovisasi dan merangkai retorika secara spontan. Sementara, penyair-penyair lain termasuk beberapa penyair manca negara yang tidak mengandalkan improvisasi, agak keteter dan suara mereka pecah oleh terjangan angin yang cukup kencang. ”Suaraku hilang diterbangkan angin,” ujar Flavio Santi, penyair dari Italia, usai membaca sajak di kapal itu.

Meskipun begitu, acara baca puisi di atas kapal pesiar tersebut menjadi sesi yang sangat unik dan mengesankan bagi para peserta The Indonesian International Poetry Festival (IIPF) 2006, yang digelar di Palembang (2-3 Juli) dan Jakarta (5-8 Juli), itu. Tidak hanya di panggung gedung kesenian, mereka juga mencoba mengaduk budaya lewat puisi di atas kapal, di tengah sungai, seperti kutipan sajak spontan Emha di atas.

Festival yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) ini diikuti sekitar 40 penyair dari 37 negara. Selain Santi, dari manca negara ada Hans Wap, Tsead Bruinja, dan Peter Swanborn (Belanda), Martin Jankowski (Jerman), Flavio Santi (Italia), Anni Sumari (Finlandia), Hal Jugde (Australia), Khairulizam (Malaysia), serta Madeleine Lee (Singapura).

Di kota empek-empek Palembang, acara utama digelar di gedung Graha Budaya. Para penyair bergantian membaca puisi dalam bahasa ibu (asli) mereka masing-masing, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Selain Emha, beberapa penyair Indonesia yang tampil di Palembang, antara lain Taufiq Ismail, D Zawawi Imran, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Dorothea Rosa Herliani, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Raudal Tanjung Banua.

Sebuah buku antologi puisi setebal 476 halaman, bertajuk Poetry and Sincerity, yang dieditori oleh Agus R Sarjono dan Martin Mooij, melengkapi even sastra yang bernuansa wisata dan penuh semangat persahabatan tersebut. ”Festival ini didedikasikan untuk semangat persahabatan dan kemanusiaan,” ujar Agus, yang juga ketua panitia festival.

Bagi para penyair Indonesia, kata pengamat sastra yang juga angota panitia festival, Maman S Mahayana, festival puisi ini dapat membuka peluang untuk mengenal karya dan sosok penyair dari negara-negara lain. Mereka dapat saling berkenalan sehingga lingkup pergaulan sastra mereka menjadi lebih luas. ”Pengenalan itu akan memperkaya perspektif, gagasan, dan proses kreatif penciptaan puisi bagi mereka,” katanya.

Festival puisi ini juga diyakini dapat meningkatkan kesepahaman lintas budaya melalui puisi. Pengamat sastra dari Universitas Tasmania yang kini sedang menekuni studi tentang Indonesia, Heather Curnov, melihat even ini dapat menjadi forum dialog budaya antar-bangsa guna membangun saling pengertian. ”Penyair-penyair dari berbagai negara dapat bertemu dan berdialog bebas tentang sastra dan budaya masing-masing,” katanya.

Dengan menyaksikan festival ini, para pengamat sastra juga dapat memperbandingkan gagasan, gaya pembacaan puisi, dan estetika bahasa dari banyak penyair dari negara lain. Tampak, misalnya, para penyair Indonesia dan Malaysia lebih ekspresif dalam membaca sajak di panggung. Sedangkan penyair-penyair Eropa dan Australia lebih dingin dan datar.

Sajak-sajak para penyair Eropa dan Australia rata-rata juga lebih sederhana dan komunikatif, serta banyak mengangkat pengalaman keseharian, termasuk catatan perjalanan. Sedangkan sajak-sajak penyair Indonesia cenderung berestetika lebih rumit dengan tema-tema yang berat, serta cenderung berfilsafat, atau berisi kritik sosial-politik yang tajam dan pedas.

Meskipun begitu, ada benang merah yang jelas menyatukan karya-karya mereka, yakni semangat kemanusiaan. Martin Mooij yakin, nilai-nilai kemanusiaan yang disuarakan oleh para penyair itu akan berumur panjang dan bermakna universal. ”Penyair tidak akan berhenti melontarkan suara-suara manusia yang lemah di tengah puncak kekerasan perang, pembungkaman, tekanan senjata, atau penjara,” tulisnya pada pengantar buku.

Di Jakarta, acara utama digelar di Teater Kecil dan Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) serta di areal air mancur Monas. Sederet penyair Indonesia, seperti Abdul Hadi WM, Aslan Abidin, Anwar Putra Bayu, Azhari, Gus tf Sakai, Godi Suwarna, Nenden Lilis, Sitor Situmorang, T Wijaya, dan Warih Wisatsana, menambah kesemarakan pentas baca puisi, yang diantarkan oleh Santi Diansari dan Acep Zamzam Noor. Emha, yang tampil bersama grup musik Kiai Kanjeng, menambah daya tarik pertunjukan.

Sesi acara yang juga menarik dan mengesankan adalah penayangan rekaman seluruh acara festival dengan teknologi digital-hologram di atas air mancur Monas. Tayangan digital yang digarap oleh Hery Dim dan Malhamang Zamzam itu sempat memukau ribuan penonton yang sedang berekreasi di Monas. Para penyair dari manca negara pun sempat dibuat takjub. ”Baru pertama kali ini saya mengikuti acara sastra yang spektakuler seperti ini,” komentar penyair Jerman, Martin Jankowski.

Betapa tidak, di udara terbuka, di atas air mancur Monas, terpampang ‘layar virtual’ yang selama sekitar dua jam menayangkan cuplikan-cuplikan terpenting acara festival, sejak pembukaan di Palembang, sampai pentas terakhir di TIM. Malam harinya (8 Juli) acara ditutup di Teater Kecil TIM. Dan, berakhirlah perhelatan besar yang begitu bermakna dan sangat mengesankan itu.
Baca Lengkapnya....

Menyorot Bahasa Indonesia dalam Film Kita

Ada indikasi bahwa bahasa dalam film kita tidak mencerminkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Adalah peneliti dari Pusat Bahasa Depdiknas, Yayah B Lumintang, yang mengemukakan indikasi itu pada diskusi Bahasa dalam Film Kita dalam rangka Festival Film Indonesia (FFI) 2008, di Gedung Film, Jakarta, pekan lalu.
Setelah melakukan serangkaian penelitian, Yayah menemukan banyak bukti bahwa bahasa dalam film-film nasional banyak diwarnai bahasa gaul (slank dan prokem) serta kuatnya pengaruh bahasa asing. Menurutnya, agar menarik, bahasa film tidak harus demikian. Dia mencontohkan film Gee yang bahasa Indonesianya sangat bagus namun tetap menarik.

Ada sedikit perbedaan persepsi tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam film. Perbedaan ini terasa sekali dalam diskusi. Kalangan pakar bahasa, seperti Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono, menginginkan agar bahasa dalam film sedekat mungkin dengan bahasa baku, meskipun tidak harus diseragamkan. Semangat senada juga tampak dari prasaran pembicara lain, Direktur Perfilman Depbudpar Ukus Kuswara.

Sementara, kalangan praktisi perfilman memandang bahwa bahasa Indonesia dalam film bersifat fleksibel, sesuai kebutuhan karakterisasi tokoh cerita, latar sosial-budaya, dan kepentingan pasar. Artis, produser, dan sutradara Lola Amaria, bahkan cenderung memandang pasar sebagai yang utama. Karena itu, baginya, untuk merebut pasar, sah-sah saja dialog dalam film banyak memunculkan bahasa gaul, dan memakai bahasa asing (Inggris) untuk judulnya.

Di tengah perbedaan itu, pengusaha bioskop dan produser film, Chand Parves Servia, memilih bersikap moderat. Film, menurutnya, adalah cermin keseharian masyarakat, termasuk keseharian masyarakat dalam berbahasa. “Bahasa dalam film bisa dianggap mencerminkan penggunaan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari,” katanya.

Karena itu, menurutnya, prinsip bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam film tidak dapat ditafsirkan secara kaku, tetapi harus secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan karakterisasi dan realitas keseharian tokoh cerita serta latar sosial-budaya yang hendak digambarkannya.

Dari sinilah tampak ada tarik-menarik antara keinginan untuk mencerminkan bahasa sehari-hari masyarakat yang diangkat ke dalam film dan kepentingan untuk memenuhi prinsip berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, Parves tetap sutuju perlunya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam film-film kita.

Dua sisi

Penggunaan bahasa dalam film, menurut Parves, dapat dilihat dari dua sisi, yakni bahasa lisan (dialog dan narasi) serta bahasa tulis (judul dan credit tittle). Bahasa lisan dalam film yang diangkat dari skenario yang ditulis oleh penulis yang penguasaan bahasanya baik, akan menghasilkan bahasa lisan (dialog) yang baik pula — kecualai diubah oleh sutradara yang penguasaan bahasanya kurang baik. Namun, bila penguasaan bahasa sutradaranya baik, maka film yang diangkat dari skenario yang bahasanya kurang baik pun dapat menghasilkan film dengan bahasa yang baik.

Bahasa lisan dalam film kita, menurut Parves, sesungguhnya sudah dapat dikatakan baik. Namun, kadang-kadang masih terdapat kesalahan yang semestinya tidak perlu terjadi, terutama berkaitan dengan logika bahasa. Sering ada tokoh yang mengucapkan dialog yang tidak sesuai dengan karakternya, misalnya tukang becak menggunakan bahasa orang gedongan. Selain itu, dalam penggunaan bahasa tulis, film kita juga sering salah ejaan.

Selain sebagai media hiburan, menurut Parves, film juga menjadi ‘guru bahasa’. Kekurangan atau kesalahan bahasa dalam film kita, sangat besar pengaruhnya terhadap anak-anak dan remaja yang banyak ‘berguru’ pada film bioskop dan sinetron. “Dengan keseriusan bersama, kesalahan penggunaan bahasa dalam film akan dapat dihindari,” katanya.

Parves yakin, untuk menghasilkan film-film dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak perlu ahli bahasa. Yang diperlukan, tegasnya, adalah kemauan bersama para insan film. Semangat inilah yang cukup menggembirakan Dendy Sugono dan Ukus Kuswara, yang sama-sama mengharapkan penggunaan bahasa Indoensia yang baik dan benar dalam film-film kita.

Namun, Dendy tidak akan menyeragamkan bahasa film. Sebab, menurutnya, pengeritan bahasa Indonesia yang baik dan benar (dalam film) bersifat fleksibel, dinamis, wajar, dan kontekstual. “Bahasa adalah cermin dinamika kehidupan. Film juga cermin dinamika kehidupan. Bahasa yang berkembang di masyarakat tercermin dalam film,” katanya.

Meskipun begitu, Dendy mengingatkan pentingnya politik identitas dalam film kita, dengan bersikap setia pada kosa kata bahasa Indonesia, dan sedapat mungkin menghindari bahasa asing, termasuk pada judul film. Sebab, semakin banyaknya bahasa asing pada film kita sama artinya dengan makin lunturnya identitas kebangsaan kita.

Untuk meningkatkan kualitas bahasa Indonesia dalam film, forum lantas mengajukan beberapa kesimpulan dan rekomendasi penting. Salah satunya, merekomendasikan agar Festival Film Indonesia (FFI) tetap mempertahankan penghargaan untuk kategori film berbahasa Indonesia terbaik, yang pada FFI 2007 diraih oleh film Kala produksi MD Pictures.

Forum juga mengusulkan agar Pusat Bahasa Depdiknas, dalam rangka kegiatan Bulan Bahasa, yang digelar tiap tahun, dapat memberikan penghargaan bagi film dengan bahasa Indonesia terbaik.
Baca Lengkapnya....

Mengubah Paradigma ‘Sastra Kampung(an)’

Jika Nusantara ini adalah kampung, maka sastra Indonesia adalah ‘sastra kampung’. Penempatan Indonesia sebagai bagian dari Kampung Nusantara, cukup tepat mengingat makin terpuruknya bangsa ini menjadi underdog negara-negara adidaya, terutama AS. Dalam ekonomi kita didekte oleh IMF, dalam politik kita didekte oleh AS, dalam kebudayaan kita didekte oleh Hollywood, dalam pemikiran sastra banyak di antara kita yang bernafas di ketiak Derrida dan Faucoul.

Begitulah, kurang lebih, nasib ‘negara kampung’ bernama Indonesia, dengan orang-orang kampung yang bermental kampung. Mental orang kampung adalah mental yang suka meniru orang kota. Ketika orang-orang kota menyemir rambut jadi blonde, maka orang-orang kampung pun ikut memblonde rambut mereka. Ketika orang-orang kota nge-punk, orang-orang kampung pun tidak ketinggalan. Kota adalah simbol modermitas. Maka, dalam psikologi orang kampung, agar disebut modern, harus meniru orang kota. Modernitas yang ‘salah kaprah’ memberhala di hampir semua aspek kehidupan masyarakat dalam mengekspresikan dirinya sebagai ‘orang kota’.

Dalam lingkup negara, kampung itu bernama Indonesia, dan kotanya adalah AS. Kita, sehari-hari, dapat menyaksikan bagaimana para artis dan remaja kita dengan bangganya bergaya tank top dengan puser terbuka, sebagaimana dipamerkan oleh Britney Spears dan Christina Aquilera. Kita juga dapat melihat bagaimana paranoianya anak-anak muda kita berhura-hura di diskotik dalam gaya artis-artis Hollywood yang serba hedonis. Kita bisa melihat juga bagaimana bangganya para intelektual politik kita memuja demokrasi ala Amerika, meskipun tidak kunjung mampu menyelesaikan persoalan keadilan, HAM, dan kedaulatan rakyat.

Nyaris begitulah sebenarnya posisi serta nasib sastra Indonesia di tangan orang-orang ‘kampung Indonesia’ yang membawa psikologi orang kampung di tengah sastra dunia (Barat). Sejak zaman Pujangga Baru, begitu lahapnya para sastrawan kita mengadopsi teori, estetika dan filsafat Barat ke dalam karya-karya mereka sejak filsafat eksistensialisme pada era Chairil Anwar sampai feminisme dan posmodernisme pada era Ayu Utami agar dapat disebut sebagai ‘sastra kota’ (modern). Lihat pula bagaimana bangganya para teoritisi sastra kita mengutip-ngutip teori sastra Barat ke dalam retorika dan kritik sastra Indonesia.

Jadi, sastra Indonesia sejujurnya adalah sastra kampung, sastra yang bersemangat orang kampung, atau ‘sastra kampungan’ sastra yang kurang pede pada jati dirinya sendiri, sebagaimana ‘orang kampung’ yang kurang pede jika tidak meniru gaya orang kota. Sebagaimana orang kampung yang ingin (sok) modern dan ‘sok kota’ yang lupa pada persoalan budaya kampungnya sendiri, sastra Indonesia pun telah lama tercerabut dari akar budaya kampungnya sendiri: Nusantara.

Sehingga, ketika muncul wacana estetika ‘kembali ke Timur’ pada tahun 1970-an atau wacana ‘kembali ke warna lokal’ belakangan ini, menjadi wacana baru yang begitu menarik dan membuat banyak sastrawan jadi ‘gegap gembita’. Padahal, estetika Timur atau warna lokal mestinya sejak dulu sudah menjadi darah daging sastra Indonesia. Agaknya benar tesis Nirwan Dewanto, bahwa sastra Indonesia adalah ‘sastra dunia’ (baca: sastra Barat) yang berbahasa Indonesia.

Karena itu, untuk mencari ‘sastra kampung’ sebagaimana dimaksud oleh penggagas Ode Kampung Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara 2006 kita tidak perlu repot-repot mencari karya-karya sastra dari kampung-kampung pedalaman, atau gang-gang sempit pinggiran kota. Sebab, sastra kampung sudah bertebaran di sekitar kita, dan tiap saat dapat kita baca. Sejak dulu banyak di antara sastrawan yang berobsesi untuk mendorong karya-karya sastra Indonesia sastra kampung itu menjadi ‘mendunia’ dan suatu saat dapat meraih Nobel Sastra.

Pertanyaannya, adakah di antara karya-karya sastra kampung itu yang mendunia, yakni diakui sebagai karya ‘berkelas dunia’ dan popular di komunitas sastra internasional, seperti karya-karya peraih Nobel Sastra, semacam karya-karya Najib Mahfoudz (Mesir), Rabindranat Tagore (India) dan Kenzaburo Oe (Jepang). Atau, setidaknya sekelas karya-karya Jalaluddin Rumi (Turki) dan Kahlil Gibran (Libanon-AS), yang begitu mendunia meskipun tanpa Nobel Sastra.

Dari sastra kampung (Indonesia), yang paling gampang disebut sebagai karya yang cukup mendunia adalah Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer. Selain telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, novel anti-borjuis yang sangat memikat itu bahkan berkali-kali sempat menempatkan Pram sebagai nominator peraih Nobel Sastra.

Selain karya Pram, sebenarnya banyak juga karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris. Tetapi, rata-rata adalah karya sastra yang canggung untuk berkomunikasi di forum internasional, karena masih mengidap psikologi orang kampung yang kurang pede, sebab tidak mengekspresikan jati dirinya sendiri, namun hanya meniru ‘sastra kota’ (dunia), alias tidak mengekspresikan budayanya sendiri.

Jika kita amati, karya-karya sastra yang berhasil mendunia dan khususnya peraih Nobel rata-rata adalah karya sastra yang pede pada jati dirinya sendiri dan sangat kental dengan warna budaya lokal. Novel-novel Najib Mahfoudz, misalnya, sangat kental warna lokal (Mesir). Begitu juga karya-karya Tagore, dan Kenzaburo Oe. Karya-karya mereka menjadi kanon-kanon sastra di negerinya sendiri, sekaligus kanon sastra dunia karena keunggulan kualitas kesastraan sekaligus unikum sosial-budaya lokal yang diangkatnya. Begitu juga, kurang lebih, karya-karya Pramudya Ananta Toer.

Dalam semangat Ode Kampung, agaknya, kita harus membalik paradigma tentang kampung dan kota, tentang tradisi dan modermitas, tentang ‘sastra kampung’ dan ‘sastra kota’. Sastra kampung tidak perlu terus meniru sastra Barat untuk menjadi ‘sastra kota’, tapi cukup memperkuat jati dirinya sendiri. Sebab, hanya dengan demikian, sastra Indonesia akan dilirik sebagai ‘sastra alternatif’ yang tidak ‘seragam’ dengan sastra Barat, dan karena itu patut diperhitungkan, termasuk untuk meraih Nobel Sastra. Jika tetap menjadi sastra Barat yang berbahasa Indonesia, seperti sinyalemen Nirwan Dewanto, maka sastra Indonesia akan tetap menjadi underdog.

Karya-karya sastra yang mendunia sudah cukup membuktikan bahwa penghargaan yang mampu mensejajarkan karya sastra suatu negara dengan karya sastra besar kelas dunia lainnya itu hanya bisa diraih oleh karya-karya sastra yang bangga pada keunggulan jati dirinya sendiri, kekuatan budaya lokalnya sendiri.
*) Tulisan ini adalah prasaran untuk sesi diskusi dalam Ode Kampung, Temu Sastrawan se-Kampung Nusantara 2006az, di Rumah Dunia, Serang, Banten, 5 Februari 2006.
Baca Lengkapnya....

Buku dari Koran

Ada hubungan yang menarik antara dunia perbukuan, khususnya buku sastra, dengan surat kabar (koran). Banyak sekali buku sastra yang terbit di Indonesia –baik kumpulan cerpen, esai, puisi, maupun novel– berasal dari karya-karya yang telah dipublikasikan di surat kabar.
Karya-karya sastra tersebut umumnya sengaja ditulis untuk rubrik-rubrik sastra di surat kabar, kemudian disunting dan diterbitkan menjadi buku. Banyak di antaranya bahkan menjadi buku penting, fenomenal, dan bestseller. Sebut saja, misalnya, Ca Bau Kan karya Remy Silado dan Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy — keduanya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Republika.

Beberapa surat kabar yang memiliki divisi penerbitan buku, sering menerbitkan sendiri karya-karya sastra yang telah dimuatnya. Republika, beberapa kali membukukan cerpen-cerpen yang telah dimuat di rubrik Sastra. Antara lain, Pembisik yang menghimpun karya-karya cerpenis ternama, seperti Umar Kayam, Danarto, Putu Wijaya, dan Nh Dini. Kemudian, Dokumen Jibril yang menghimpun cerpen-cerpen para perempuan penulis –sejak yang muda sampai yang senior seperti Titie Said– serta Tarian dari Langit yang menghimpun cerpen-cerpen berlatar tsunami Aceh.

Selain itu, beberapa novel yang telah dimuat sebagai cerita bersambung (cerber) di surat kabar kita ini juga telah diterbitkan oleh Penerbit Republika. Salah satu novel yang mendapat sambutan luar biasa dari pembaca adalah Ayat-ayat Cinta. Namun, banyak juga novel penting yang setelah dimuat sebagai cerber di Republika akhirnya terbit di luar lembaga penerbit tersebut, misalnya Tamu karya Wisran Hadi, Pasar karya Kuntowijoyo (Bentang), Asamaraloka karya Kuntowijoyo (Pustaka Firdaus), Ca Bau Kan dan Kerudung Merah Kirmizi karya Remy Silado (Gramedia), serta Sintren karya Dianing Widya Yudhistira (Grasindo). Semuanya menjadi karya-karya penting dalam sejarah sastra Indonesia.

Memang tidak semua karya sastra yang telah dimuat di surat kabar akhirnya dibukukan oleh surat kabar yang bersangkutan. Pengarangnya pun bebas menerbitkannya melalui penerbit manapun, karena tidak memiliki “ikatan hak cipta” dengan surat kabar bersangkutan. Pihak surat kabar biasanya hanya memberikan royalti atas pemuatan karya tersebut, dan bukan pembelian hak cipta.

Karena itu, buku karya sastra yang terbit di luar lembaga penerbit surat kabar yang telah memuatnya jumlahnya justru lebih banyak. Apalagi, tidak semua surat kabar memiliki divisi penerbitan buku. Pengumpulan ataupun penyuntingan karya-karya semacam ini biasanya dilakukan sendiri oleh pengarangnya, dan dia pula yang kemudian menawarkannya kepada penerbit. Namun, tak jarang, pihak penerbitlah yang meminta kepada pengarangnya.

Tidak jarang, buku-buku sastra semacam itu juga menjadi buku penting, laris, dan meraih penghargaan bergengsi. Salah satu contoh adalah buku kumpulan esai 9 Jawaban Sastra Indonesia karya Maman S Mahayana yang meraih penghargaan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Sebagian besar esai di dalam buku tersebut telah dimuat di berbagai surat kabar, sang penulis menghimpunnya, dan menerbitkannya di Rajawali Pers.

Dewasa ini ada pula lembaga sastra yang memberi perhatian khusus pada karya-karya sastra yang terbit di surat kabar. Salah satunya adalah lembaga baru Pena Kencana. Lembaga ini menghimpun cerpen dan sajak yang dimuat oleh surat-surat kabar di Indonesia sepanjang setahun (2007-2008). Setelah melewati seleksi dewan juri, hasilnya adalah buku kumpulan cerpen 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan buku kumpulan sajak 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008.

Mirip sistem seleksi Indonesian Idol, 20 cerpen dan 100 puisi itu kini diserahkan kepada publik pembaca untuk memilih satu cerpen terbaik dan satu puisi terbaik. Publik pembaca diminta untuk memilih karya melalui SMS dengan menyebut kode buku yang dibelinya dan kode karya yang dipilih (dijagokan)-nya. Tentu, agar dapat mengikuti “permainan” tersebut peserta harus membeli bukunya, sebab satu kode buku hanya dapat disertakan dalam satu kali SMS. Karya yang dapat mengumpulkan SMS terbanyak yang akan dinobatkan sebagai pemenang.

Permainan sastra ala Indonesian Idol tersebut mungkin menarik, namun rasanya kurang pas untuk dijadikan prosedur pemilihan karya sastra terbaik. Dan, itulah yang sempat menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat sastra. Karena, selain sistemnya yang dianggap “kurang cerdas” juga dinilai rawan manipulasi. Di antara nomine, misalnya, bisa saja sengaja memborong banyak buku dan banyak voucer HP (yang kini sangat murah), lantas mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk memenangkan karyanya.

Yang lebih pas, barangkali, pemilihan karya terbaik tetap diserahkan kepada dewan juri yang benar-benar kredibel. Sedangkan pemilihan melalui polling SMS hanya pas untuk memilih “karya terfavorit” pilihan pembaca. Hasilnya, publik sastra dapat tahu cerpen dan puisi terbaik pilihan dewan juri –yang terdiri dari para sastrawan– dan puisi serta cerpen terfavorit pilihan pembaca. Akan sangat surprise kalau ternyata hasil pilihan dewan juri sama dengan pilihan pembaca.

Lepas dari “permainan” model Pena Kencana itu, terbitnya dua buku tersebut tetap penting bagi pendokumentasian “sastra koran” di Indonesia. Dibanding buku-buku dari “sastra koran” sebelumnya, kedua buku Pena Kencana tersebut tetap memiliki kelebihan. Ia tak memilih karya dari satu koran saja. Kedua buku Pena Kencana tersebut dipilih dari semua rubrik sastra surat kabar di Indonesia.

Mungkin masih ada kelemahan pada sistem penghimpunan karya dan penjuriannya. Tetapi, karena upayanya untuk merangkum semua karya (puisi dan cerpen) dari semua surat kabar yang terbit di Indonesia, jika dewan jurinya benar-benar kredibel, dengan sistem penjurian yang benar-benar objektif, hasilnya akan dapat menjadi cermin teraktual perkembangan “sastra koran” dan bahkan sastra Indonesia terkini.()
Baca Lengkapnya....

Keraton Yogya Bertabur Puisi

Selama dua malam berturut-turut, 23-24 Agustus 2007, keraton Yogya bertabur puisi. Tidak kurang dari 30 penyair Indonesia membacakan sajak-sajak mereka di Sasono Hinggil, bagian dari komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Salah satu mata acara Divisi Sastra Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XIX/2007 itu dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Ir Condroyono MSp, dengan me-launching buku sastra FKY XIX, Tongue in Your Ear, yang berisi makalah pembicara, puisi para penyair dan esei peserta workshop, setebal hampir 500 halaman.

Usai ‘ritual’ pembukaan, peyair Irman Syah (Jakarta) menggebrak dengan dendang puisi dan gerak randai yang memukau ratusan penonton. Kemudian tampil berturut-turut Hamdy Salad (Yogya), S Yoga (Ngawi), Wayan Sunarta (Karangasem), Bustan Basir Maras (Yogya), Badrudin Emce (Cilacap), Afrizal Malna (Yogya), Sindu Putra (Mataram), Arie MP Tamba (Jakarta), Aslan Abidin (Makassar), Hasta Indriyana (Yogya), Jamal T Suryanata (Pleihari), Wowok Hesti Prabowo (Tangerang), Thompson Hs (Pematang Siantar), Mardi Luhung (Gresik) dan Toto ST Radik (Banten).

Hari kedua, dengan jumlah penonton yang tetap membludak, diawali penampilan Tan Lioe Ie (Denpasar) yang memusikalisasikan dan membacakan puisi-puisinya dengan sangat atraktif. Setelah itu tampil TS Pinang (Yogya), Iyut Fitra (Payakumbuh), Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Ahda Imran (Bandung), Riki Dhamparan Putra (Denpasar), Faisal Kamandobat (Yogya), Marhalim Zaini (Pekanbaru), Agus Hernawan (Padang), Iman Budhi Santoso (Yogya), Gus tf (Payakumbuh), Hasan Aspahani (Batam), Joko Pinurbo (Yogya) dan Sihar Ramses Simatupang (Jakarta).

Untung Basuki, sesepuh Sanggar Bambu dan Bengkel Teater, tampak dengan tulus menyalami panitia Divisi Sastra FKY XIX, Saut Situmorang dan Raudal Tanjung Banua, “Selamat, acara Anda sukses!” katanya, barangkali sambil membayangkan bahwa sudah lama di Yogya tidak ada lagi forum puisi setakzim itu.

Mata acara yang tidak kalah menariknya adalah spoken word (pembacaan puisi lisan), di bekas Hotel Tugu, depan Stasiun Tugu, pada 25 Agustus, mulai pukul 19.00 WIB. Acara dibuka I Gusti Putu Bawa Samar Gantang dari Tabanan, Bali, yang membawakan sajak ‘leak’-nya, dan memukau penonton di ruang terbuka itu. Dengan suara yang melengking tinggi, Samar Gantang tampil prima, membangun variasi kata-kata berbahasa Indonesia dengan tembang dan mantra Bali.

Kemudian, D Zawawi Imron, yang kali ini diminta tampil khusus mendeklamasikan sajak-sajaknya, menggetarkan panggung dengan sajak Sungai Kecil, Ibu dan mencapai puncaknya dalam Sajak Alif yang dibacakan seperti berzikir.

Irman Syah dengan spontanitas dan improvisasinya yang tinggi, merespon panggung dengan menghentakkan kaki membentuk irama yang kemudian diikuti suara bansi (sejenis seruling) yang dimainkannya dengan tingkat keahlian tinggi.

Berturut-turut setelah itu, tampil antara lain kelompok asrama Air Tawar Aceh, Erythina Baskorowati yang membacakan teks Waktu, Batu, Abbas CH (dongeng), Pardiman (accapela), Jamaluddin Lattief (monolog), dan Jahanam (rapp).

Divisi Sastra FKY kali ini juga mengadakan workshop penulisan esei, dan diskusi sastra. Workshop berlangsung di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY), 23 Agustus, mulai pukul 09.30 WIB dengan instruktur Nirwan Ahmad Arsuka dan Katrin Bandel. Selain mengundang 20 penulis muda (peserta inti), panitia workshop juga membuka kesempatan bagi sekitar 15 peserta partisipatif.

Sejumlah pengamat dan peserta peninjau yang diundang khusus dari berbagai kota/daerah di tanah air juga tampak hadir, seperti Mustofa Ibrahim (Sumbar), Jumhari HS (Kudus), Viddy AD Daery (Lamongan), Damhuri Muhammad (Jakarta), Boni Triyana (Jurnas), Fahmi Faqih (Surabaya) dan Dimas Arika Miharja (Jambi). “Acaranya bagus dan intens membuat saya optimis memandang kehidupan kesenian Indonesia mendatang,” kata Mustofa Ibrahim.

Masih di Ruang Seminar TBY, 24 Agustus, mulai pukul 10.00 WIB, diadakan diskusi sastra dengan tema Spirit Penciptaan dan Perlawanan: Mengguggat Politik-Estetik Sastra Dekaden, Membangun Spirit Penyair Independen. Diskusi ini menghadirkan pembicara Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Aslan Abidin, Gus tf, dan Wowok Hesti Prabowo, dengan moderator Saut Situmorang, yang juga ketua Devisi Sastra FKY 2007.

Afrizal Malna dan Acep Zamzam Noor pada sesi pertama berbicara tentang proses kreatif mereka di tengah situasi pergaulan sastra yang gonjang-ganjing. Mereka mencoba bertahan dengan berbagai strategi yang dibangun sendiri. Afrizal misalnya, setelah sempat lama menetap di Solo, kini memilih tinggal di Yogya dan hidup sepenuhnya dari menulis. Tidak mudah memang, sebab itu berarti memilih menyepi dari hiruk-pikuk ‘politik sastra’ yang kurang menguntungkan.

Hal yang sama dilakukan Acep Zamzam Noor. Dalam menghadapi pergaulan sastra mutakhir ia cenderung menciptakan ruang sendiri yang sebenarnya menawarkan kritik dan ironi. Ia membangun komunitas anak muda di kampung halamannya, Tasikmalaya, sembari mencuatkan soliloqui “sastra tidaklah menegangkan”. Lewat canda, plesetan dan ungkapan main-main, ia menawarkan sastra sebagai urusan kemanusiaan yang bisa mencairkan katub ketegangan. Jadi, tidak sepantasnya dibuat angker dan ekslusif.

Tidak mengherankan, di tengah polemik sastra yang meruncing seperti saat ini, Acep justru bicara tentang hobinya berjalan-jalan dari kota ke kota, filosofi batu akik atau tentang tamu-tamunya yang beragam watak dan latar. “Sastra adalah urusan kemanusiaan yang nilainya tidak bisa dimonopoli untuk kepentingan sesaat dan segelintir orang,” katanya.

Diskusi yang lebih panas terjadi pada sesi kedua, dengan pembicara Wowok Hesti Prabowo, Aslan Abidin dan Gus tf. Aslan menganggap bahwa sastra Indonesia adalah sastra (redaktur) koran yang objektivitasnya perlu terus dikritisi. Itu artinya, sastra tidak boleh tergantung pada hegemoni media, sebab begitu sebuah media memaksakan estetika atau ideologinya, pengarang yang akan jadi korban.

Mengacu kepada sepotong tema spirit penciptaan, Gus tf mempertanyakan, masih perlukah kita mencipta bila semua telah ada dan kebenaran sudah dirumuskan? Menurutnya, masih, sebab kelenyapan bisa membuat puisi bertahan, karena hanya dengan lenyap ia jadi tak temporal, lahir dan lahir terus dalam diri pembaca yang berposisi sebagai subjek.

Sedangkan Wowok Hesti Prabowo tetap konsisten mengkritisi keberadaan Komunitas Utan Kayu dan Goenawan Mohamad yang menurutnya telah menjual kesusasteraan Indonesia di luar negeri. Menurut Wowok, Goenawan dan kawan-kawannya mempromosikan di luar negeri bahwa tidak ada lagi sastrawan di Indonesia, kecuali orang-orang TUK.

Pendapat dikemukakan Wowok itu mendapat sambutan beragam dari peserta diskusi. Ada yang mendukung dan setuju, ada yang malu-malu, ada yang malah balik menyerang Wowok, bahkan ada yang minta moderator diganti sebab dianggap berpihak pada Wowok. Menurut Saut, pernyataan Wowok itu merepresentasikan, sudah sejauh itulah pesona TUK merasuk ke dalam diri sebagian pengarang kita! ( ahmadun yh, dari berbagai sumber)
Baca Lengkapnya....

Buku-buku Sutan Takdir Alisabana

Beberapa buku tentang Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dan pemikirannya, belum lama ini, diterbitkan dalam rangka 100 tahun sang tokoh. Dua buku di antaranya, Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan dan Manusia Renaisance, diterbitkan oleh Dian Rakyat. Keduanya berisi kumpulan tulisan para pakar dan sama-sama disunting oleh Abu Hasan Asy’ari.

Sederet diskusi pun diadakan untuk membahas buku-buku dan pemikiran STA, antara lain di Taman Ismail Marzuki, The Habibie Center, dan kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok. Sejumlah media massa pun menyambut cukup antusias diskusi-diskusi tersebut, dengan memberikan ruang cukup lebar untuk pemberitaannya.

Almarhum STA semasa hidupnya telah menulis cukup banyak buku. Setidaknya ada 35 buku karya STA yang telah terbit, berupa tiga buku filsafat, sembilan buku kebudayaan, delapan buku bahasa, 12 buku sastra (termasuk novel dan kumpulan puisi), dan tiga buku umum.

Di antara novel STA yang paling terkenal dan fenomenal adalah Layar Terkembang. Novel ini menduduki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah sastra Indonesia, karena menawarkan konsep pembaruan budaya sekaligus pemuliaan terhadap kaum perempuan. Melalui tokoh Tuti, jelas sekali bagaimana gambaran perempuan yang ideal menurut STA: Terpelajar, berpikiran maju, dan menjadi aktivis serta pelopor perubahan sosial ke arah kemajuan.

Selain melalui buku, pemikiran STA juga banyak dilansir dalam berbagai tulisan yang dimuat di berbagai media massa sejak tahun 1930-an. Pemikiran STA tentang kebudayaan Indonesia bahkan sempat berkembang menjadi polemik panjang, dalam dasawarsa 1930-an, yang antara lain melibatkan Sanusi Pane dan Ki Hajar Dewantara.

Dalam polemik itu konsep-konsep budaya Timur dan Barat dicoba didialogkan untuk menemukan konsep budaya baru bagi masa depan bangsa. Dari polemik tersebut lahir sebuah buku berjudul Polemik Kebudayaan (dirangkum oleh Achdiat Kartamihardja), yang sampai sekarang masih sering dijadikan rujukan oleh para pakar budaya ketika membicarakan tentang masa depan kebudayaan nasional. Artinya, polemik tersebut telah memberikan dasar-dasar penting bagi pengembangan kebudayaan Indonesia.

Karena karya-karya sastranya, terutama novel Layar Terkembang, dan polemik kebudayaannya yang sangat menyejarah, selama ini masyarakat lebih mengenal STA sebagai sastrawan dan budayawan, yang pernah memimpin majalah Pujangga Baru. Nama majalah itu pun oleh HB Jassin lantas dijadikan nama angkatan Angkatan Pujangga Baru dalam sastra Indonesia, dengan STA sebagai pelopornya. Penempatan STA sebagai pelopor Angkatan Pujangga Baru, tentu, makin memantapkan posisinya dalam sejarah sastra Indonesia, sekaligus menguatkan eksistensi kesastrawanannya.

Namun, sumbangan penting STA bagi bangsa ini tentu tidak hanya dalam bidang sastra dan budaya. STA juga memberi sumbangan penting di bidang pendidikan, filsafat, dan sosiologi, yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan nasional, setidaknya di bidang pemikiran budaya.

Buku-buku yang diterbitkan Dian Rakyat di atas mencoba menghadirkan gambaran ketokohan STA yang seutuhnya, dan antara yang satu dengan lainnya saling melengkapi, sehingga perlu dibaca keduanya. Buku Sutan Takdir Alisyahbana Dalam Kenangan menggambarkan sosok STA dan berbagai perannya. Sedangkan Manusia Renaisance lebih menyorot pemikiran-pemikirannya.

Dari karya dan pemikirannya, terlihat bahwa STA adalah manusia berkarakter laut, dan bukan gunung. Dinamis dan ingin cepat maju, serta tak pernah mau tinggal diam melihat bangsanya yang masih terbelakang. Wajar kalau ada yang menyebut STA sebagai fajar modernisme Indonesia.

Luar biasanya, semangat untuk membangun Indonesia modern dilontarkan STA sebelum negara bernama Indonesia lahir. Sejak awal dasawarsa 1930-an, tidak lelah-lelahnya tokoh dinamis ini memperjuangkan kemajuan bangsa melalui pemikiran sastra, bahasa, filsafat, dan terutama kebudayaan.

STA yakin, untuk memajukan suatu bangsa, peran kebudayaan sangat vital. STA yakin, agar dapat berjalan dengan baik, suatu masyarakat harus memiliki kebudayaan yang dapat menjadi dasar atau sandaran bagi kemajuan ilmu dan teknologi. Jadi, pesan tersirat STA, kalau ingin bangsa ini maju dan sejahtera lahir-batin, jangan sepelekan kebudayaan.
Baca Lengkapnya....

Kreativitas Guru, Tumpuan Pengajaran Sastra



Saya selalu merasa bahagia tiap kali membaca karya-karya siswa SMU, puisi maupun cerpen, yang dimuat di suplemen Kaki Langit Majalah Horison. Meskipun di satu sisi, suplemen tersebut kerap dianggap memerosotkan wibawa majalah tersebut, tetapi di sisi lain suplemen tersebut cukup menggairahkan budaya menulis kreatif di kalangan siswa. Suplemen tersebut juga menjadi bukti makin banyaknya siswa SMU yang kini gemar dan mahir menulis karya sastra.

Jika dikaitkan dengan persoalan pengajaran sastra, yang selama ini sering dikeluhkan, karya-karya siswa SMU pada suplemen tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pelaksanaan pengajaran sastra di SMU saat ini sebenarnya sudah tidak seburuk yang diduga. Banyak sekolah maupun guru sastra yang sudah memberikan perhatian lebih bagi peningkatan apresiasi sastra para siswanya. Mereka tidak hanya diberi pengatahuan dan sejarah sastra, juga tidak hanya diajak mengapresiasi karya-karya sastra, tapi juga diajak untuk menulis karya sastra. Setidaknya, melalui kegiatan ekstra kurikuler dan sanggar-sanggar sastra di sekolah.

Upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbanyak porsi pengajaran sastra guna meningkatkan apresiasi sastra para siswa juga terlihat pada buku-buku pegangan pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang disusun berdasarkan prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi. Misalnya saja, adalah buku-buku yang disusun oleh Diyan Kurniawati dkk, yakni Bahasa Indonesia (Intan Pariwara), serta yang disusun oleh Tika Hatikah dan Mulyanis, Membina Komptensi Berbahasa dan Sastra Indonesia (Grafindo Media Pratama). Aspek kebahasaan menempati porsi yang sama dengan aspek apresiasi sastra. Aspek-aspek lainnya adalah mendengarkan, berbicara, dan menulis. Jadi, semua aspek penguasaan bahasa Indonesia mendapatkan porsi yang seimbang.

Selain itu, contoh-contoh karya sastra yang menjadi obyek pelajaran juga karya-karya sastra terkini, tanpa meninggalkan karya-karya sastra lama. Peristiwa-peristiwa kesenian yang diambil sebagai bahan bacaan juga peristiwa-peristiwa terkini. Pada buku Bahasa Indonesia 1A, misalnya, siswa dikenalkan pada karya-karya Kirjomulyo, Leon Agusta, Ramadhan KH, Rendra, Slamet Sukirnanto, Asrul Sani, Toto Sudarto Bachtiar, Abdul Hadi WM, Dali S Naga, Taufiq Ismail, Hartoyo Andangjaya, Popi Sopiati, Marianne Katoppo, YB Mangunwijaya, NH Dini, Marga T, Wildan Yatim, Bakdi Sumanto, A Rumadi, Sugiarta Sriwibawa, Ahmad Tohari, Ahmadun Yosi Herfanda, Pandir Kelana, Amal Hamzah, Prijo Basuki, Ajib Hamzah, Motinggo Boesye, Iman Budhi Santosa, Hidayat Muhammad, dan Amir Hamzah.

Pada buku yang sama, jilid 1B, siswa dikenalkan pada karya-karya Arisel Ba, Emha Ainun Najib, Djisno Zero, Bejo, Nugroho Notosusanto, JE Siahaan, Seno Gumira Ajidarma, Sanusi Pane, Max Arifin, Putu Wijaya, A Rumadi, Sopocles, Rendra, Bakdi Soemanto, Iwan Simatupang, Har, Sutan Takdir Alisyahbana, YB Mangunwijaya, Mochtar Lubis, Gerson Poyk, Budi Darma, Ayu Utami, NH Dini, Ahmad Tohari, Hamka, Amijn Pane, Idrus, Adjib Hamzah, YB Sudarmanto, dan Marah Rusli.

Sementara, pada buku Membina Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia jilid 2A (kelas II SMU semester 1) siswa dikenalkan pada karya Sena Gumira Ajidarma, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Chairil Anwar, Putu Wijaya, Bakdi Sumanto, Puntung CM Pudjadi, Rendra, sampai Hikayat Sri Rama. Pada buku yang sama, jilid 2B (untuk kelas II SMU semester 2), siswa dikenalkan pada karya-karya Motinggo Boesye, Harris Effendi Tahar, Robert Fontaine, Ernest Hemingway, dan Abdul Muis. Dan, pada jilid 3B (untuk kelas III SMU Semester 2), siswa dikenalkan sejak pada karya-karya Umar Kayam, Jamil Suherman, Budi Darma, Gregorio Lopez Y Fuentes, Muhammad Ali, Motinggo Boesye, B Sularto, Mochtar Lubis, Suwarsih Djojopuspito, sampai Raja Ali Haji.

Melihat nama-nama sastrawan yang karya-karyanya dikutip pada buku-buku tersebut, sebenarnya sudah tidak pas lagi tudingan sementara pengamat bahwa pengajaran sastra di SMU berhenti hanya sampai Angkatan 66. Sebab, banyak nama-nama sastrawan kontemporer, bahkan terkini, yang karya-karyanya diperkenalkan kepada siswa melalui buku-buku tersebut. Tulisan-tulisan non-sastra yang dikutip juga diambil dari surat-surat kabar dan majalah yang berisi peristiwa-peristiwa terkini. Bahkan, mungkin terlalu inginnya menyesuaikan materi pengajaran sastra dengan perkembangan (sastra) terkini, ada nama-nama yang belum dikenal yang karyanya ikut dikutip, seperti Bejo (cerita lucu), Har (legenda Banyuwangi), Ariesel Ba (puisi), Popi Supiati (puisi) dan Djisno Zero (cerpen, dikutip dari Jawa Pos).

Dengan begitu, materi (buku) yang tersedia untuk pengajaran sastra di SMU sebenarnya sudah sedemikian maju dan sesuai dengan perkembangan sastra dan zaman terkini. Guru tinggal mendorong siswa untuk membaca karya-karya lain dari pengarang-pengarang pilihan yang karya-karyanya dikutip tersebut. Jika mau dicari kekurangannya, barangkali adalah masih kurangnya kesempatan bagi siswa untuk diajak berlatih menulis karya sastra.

Berdasarkan buku-buku di atas, pada aspek ketrampilan menulis, siswa hanya diajak menulis karya sastra pada kelas I semester 2 (jilid 1B), yakni menulis cerpen, puisi dan naskah drama. Inipun, barangkali, hanya diberikan pada satu dua kali pertemuan saja. Pada kenyataannya, di banyak SMU, pelajaran kesenian memang hanya diberikan pada siswa kelas I saja. Karena itu, masih diperlukan kegiatan ekstra kurikuler kesenian, termasuk seni sastra, untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat-bakat seni (sastra) siswa.

Melihat materi dan porsi pengajaran sastra yang saat ini sudah cukup bagus, dan sesuai dengan perkembangan sastra terkini, sebenarnya ada peluang besar bagi guru bahasa/sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra. Tetapi, karena pengajaran sastra masih hanya bagian dari pengajaran bahasa, pelaksanaan pengajaran sastra untuk mencapai tujuan tersebut masih sulit untuk berlangsung maksimal. Apalagi, jika upaya guru untuk itu terhalang oleh minimnya buku sastra di perpustakaan sekolah.

Prestasi siswa dalam pengajaran sastra yang tidak muncul sebagai nilai (rapor) tersendiri, juga tidak dapat mendorong mereka untuk bersungguh-sungguh dalam pelajaran sastra. Cukup logis jika siswa merasa tidak perlu bersungguh-sungguh dalam menguasai pelajaran apresiasi sastra, karena prestasi mereka dalam pelajaran ini hanya akan menyumbang tidak lebih dari 20 persen nilai bahasa Indonesia pada rapornya — persentase nilai lainnya disumbang oleh aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan kebahasaan. Apalagi, jika minat mereka pada bidang sastra memang rendah.

Pada akhirnya, efektif tidaknya pengajaran sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra, bertumpu pada kreativitas guru bahasanya. Jika sang guru bahasa tidak memiliki minat terhadap sastra, serta apresiasi dan pengetahuan sastranya rendah, maka sulit diharap akan melaksanakan pengajaran sastra secara maksimal, kreatif dan efektif. Dan, jika kebanyakan guru bahasa Indonesia berkarakter demikian, maka pengajaran sastra akan tetap menuai kegagalan. Kenyataannya, rata-rata lulusan SMU saat ini memiliki minat baca dan apresiasi sastra yang sangat rendah.

Karena itu, seperti berkali-kali dikemukakan oleh Taufiq Ismail, sangat penting untuk mengusulkan kembali agar pelajaran sastra dipisahkan saja dari pelajaran bahasa Indonesia. Rasanya, inilah cara paling tepat agar pengajaran sastra di SMU dapat berlangsung secara efektif dan maksimal.

Namun, sembari menunggu kebijakan ‘pemisahan pengajaran sastra dari pengajaran bahasa’ yang belum jelas akan disetujui atau tidak alangkah baiknya jika para guru bahasa dapat memaksimalkan pengajaran sastra di sekolah masing-masing. Meskipun hanya menyumbang 20 persen pada nilai bahasa Indonesia, pengajaran sastra perlu diefektifkan dengan menekankan pada apresiasi.

Langkah sederhananya adalah mendorong atau mewajibkan siswa lebih banyak membaca karya sastra, seperti memberi penugasan pada siswa untuk membuat resensi karya sastra sebanyak mungkin. Sementara, siswa-siswa yang berbakat menulis kreatif dapat dipupuk melalui kegiatan ekstra kurikuler di luar jam pelajaran resmi.

Tradisi kompetitif dengan memberi penghargaan pada karya siswa, baik resensi sastra maupun karya kreatif (cerpen dan puisi), dapat juga dipilih untuk merangsang budaya baca dan tulis siswa. Dalam hal ini, kreativitas guru dalam mengajarkan sastra menjadi tumpuan utama. Hanya dengan kesungguhan, kecintaan, dan kreativitas guru, kualitas pengajaran sastra di sekolah dapat didongkrak secepatnya, agar apresiasi sastra kaum terpelajar kita bisa ditingkatkan lagi.
Baca Lengkapnya....

‘Sastra Pragmatik’ dan Orientasi Penciptaan (bagian terakhir)

Bagian terakhir dari dua tulisan

Dalam konteks peran sosial sastra, ‘kaum sastra kontekstual’ meyakini bahwa karya-karya besar seperti Max Havelar (Multatuli), Uncle Tom Cabin (Beecher Stower), dan sajak-sajak Rabindranat Tagore telah menginspirasi perubahan sosial di lingkungan masyarakat pembacanya masing-masing. Max Havelar menginspirasi ‘gerakan politik etis’ di Hindia Belanda, sajak-sajak Tagore mendorong gerakan pembebasan bangsa India dari penjajahan Inggris, dan Uncle Tom Cabin menginspirasi gerakan anti-perbudakan di Amerika Serikat.
Dapat disebut juga sajak-sajak cinta tanah air Mohammad Yamin dan Ki Hajar Dewantara yang ikut memupuk rasa kebangsaan anak-anak muda generasi 1920-an dan 1930-an dan sangat mungkin menjadi salah satu sumber inrspirasi lahirnya Sumpah Pemuda. Sementara, sajak-sajak patriotik Chairil Anwar, seperti Diponegoro, Kerawang-Bekasi, Kepada Bung Karno, ikut menyemangati generasi 1940-an untuk merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Pada ketiga sajak tersebut pesan Chairil begitu jelas bagi pembaca untuk memenangkan perjuangan dan mengisi kemerdekaan dengan kebermaknaan, seperti terasa pada kutipan sajak Kerawang-Bekasi berikut ini:

Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah kini yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,
Kemenangan, dan harapan. Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata.

Dari kacamata politik-kekuasaan, sajak-sajak patriotik Chairil Anwar sebenarnya sangat subversif terhadap kekuasaan penjajah Belanda, dan bisa lebih berbahaya dibanding slogan-slogan perjuangan. Seperti diyakini GL Morino, sebuah sajak patriotik mampu merangsang seratus perbuatan heroik. Jika menyadari bahaya itu, barangkali Belanda sudah menangkap dan memenjarakan Chairil, sebagaimana militer Israel pada era Mosye Dayan yang menangkapi dan memenjarakan para penyair Palestina karena dianggap berbahaya. Mosye Dayan bahkan menganggap bahwa sebuah sajak patriotik penyair Palestina lebih berbahaya daripada satu kompi pasukan komando.

Kenyataannya, garakan Intifada banyak dikobarkan oleh sajak-sajak patriotik para penyair Palestina yang ditulis pada tembok-tempok dan beredar di bawah tanah. Dan, semangat untuk merdeka, untuk bebas dari penindasan kaum Zionis, itulah yang tidak mungkin dipadamkan oleh tentara Israel. Mungkin juga tidak terlalu bergurau jika mendiang mantan presiden AS John F Kennedy pernah berujar, ”jika politik bengkok, maka puisi akan meluruskannya.”

Di dalam khasanah sastra Islam, sajak-sajak Mohammad Iqbal juga disebut-sebut ikut mendorong proses rekonstruksi pemikiran Islam. Sedangkan sajak-sajak Jalaluddin Rumi, dan Hamzah Fansuri, ikut mendorong proses rekonseptualisasi ajaran tasawuf. Bahkan, menjadi sumber rujukan penting para peneliti tasawuf, seperti Annemarie Schimmer, mengingat fungsi puisi sebagai sarana pengajaran dan ekspresi penghayatan sufistik para tokohnya.

Jadi, ada semacam keyakinan bahwa karya sastra merupakan sumber nilai yang memiliki kekuatan pencerahan sekaligus sumber inspirasi bagi proses perubahan sosial. Tokoh-tokoh seperti Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Abdul Hadi WM, dan Emha Ainun Najib juga meyakini bahwa karya sastra tidak sekadar mampu merefleksikan realitas diri pengarang dan masyarakatnya, tapi juga dapat menjadi salah satu agen perubahan. Dan, di sini pula pentingnya kaum terpelajar membaca karya-karya sastra yang mencerahkan guna meningkatkan kualitas kecendekiaannya agar dapat mengambil bagian lebih besar sebagai agen perubahan sosial guna membawa

Kesadaran yang juga penting untuk dimiliki oleh cendekiawan adalah kesadaran sejarah dan rasa kebangsaan (nasionalisme). Membaca karya sastra yang berdimensi sejarah dan mengaitkannya dengan masalah kebangsaan dapat ikut menumbuhkan kesadaran tersebut. Dengan membaca karya sastra yang berdimensi sejarah, kita juga dapat melihat evolusi ataupun perubahan visi kebangsaan di mana karya sastra ikut mengalami evolusi tematik yang seirama.

Pada masa Mohammad Yamin, misalnya, masalah kebangsaan yang dihadapi adalah bagaimana menyadarkan dan kemudian membangkitkan rasa kebangsaan masyarakat. Maka yang lahir adalah sajak-sajak cinta tanah air yang romantik, karena ketika itu memiliki tanah air yang merdeka masih sebatas ‘impian’. Sajak menjadi salah satu media bagi kalangan pergerakan nasional untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya memiliki satu bangsa yang merdeka.

Di tataran filsafat dan kebudayaan, Sutan Takdir Ali Syahbana dan Ki Hajar Dewantara kemudian mengentalkan rasa kebangsaan itu melalui proses kristalisasi konsep budaya bangsa. Tidak hanya melalui sajak-sajaknya Takdir mencoba meletakkan dasar-dasar kebudayaan bangsa, tapi juga melalui sebuah polemik yang sangat terkenal — Polemik Kebudayaan — yang hingga kini masih menjadi rujukan bagi banyak pemikir budaya dalam meninjau ulang dan mencari arah terbaik kebudayaan bangsa ke depan.

Pada medio awal dasawarsa 1940-an, Chairil Anwar menangkap semangat kemerdekaan yang mengkristal sejak masa kebangkitan pergerakan nasional itu ke dalam sajak-sajak heroik dan penuh etos pemberontakan. Dengan semangat ‘binatang jalang’ ia melahirkan sajak-sajak yang tidak hanya membawa pemberontakan estetik, tapi juga memompa semangat pemberontakan terhadap penjajah Belanda untuk mencapai kemerdekaan.

Evolusi sastra Chairil Anwar — yang di dalamnya menyimpan evolusi rasa kebangsaan — adalah evolusi yang sudah sampai pada tahap pembebasan. Kesadaran akan rasa kebangsaan telah mengkristal begitu keras, hingga tinggal menunggu saatnya untuk diledakkan. Bentuk ledakannya adalah pembacaan proklamasi kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta yang siap dibela sampai titik darah terakhir.

Pasca-kemerdekaan sastra seperti kehilangan momentum untuk berbicara tentang patriotisme, nasionalisme dan pemupukan rasa kebangsaan. Dari sinilah kemudian Taufiq Ismail menerjemahkan perannya pada pembangunan bangsa melalui sajak-sajak kesaksian sejarah di seputar pergeseran kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru. Peran ini pula yang secara lebih kritis dan tajam diambil oleh Rendra dengan sajak-sajak kritik sosialnya dalam Potret Pembangunan Dalam Puisi (1980). Namun, jika rasa nasionalisme dapat diterjemahkan sebagai rasa cinta dan kepedulian pada nasib bangsa, maka karya-karya Taufiq dan Rendra dapat dimasukkan ke dalamnya.

Sastra Indonesia kontemporer dewasa ini banyak diwarnai kecenderungan (mainstream) sastra seksual, feminis, dan bahkan masokis. Memang tampak juga kecenderungan lain, seperti maraknya fiksi Islami dan masih bersambungnya benang merah sastra religius dan sufistik, serta tetap hidupnya sastra humanisme universal, tetapi wacana sastra lebih banyak diwarnai persoalan-persoalan sastra yang bersikap memberontak dan bersemangat pembebasan nilai (liberalisasi).

Meskipun begitu, tidak berarti karya sastra tidak dapat lagi ikut menyumbang bagi peningkatan kualitas kecendekiaan pembacanya. Bagaimanapun, seperti pernah ditegaskan oleh Umar Kayam, karya sastra adalah refleksi dari realitas kehidupan di sekitarnya. Dan, karena itu, bagaimanapun isi dan corak estetiknya, adalah tantangan bagi kaum cendekiawan untuk memahami dan merenungkan realitas itu, guna menyikapinya secara tepat.
Baca Lengkapnya....

‘Sastra Pragmatik’ dan Orientasi Penciptaan

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Judul asli tulisan ini adalah Sastra dan Peningkatan Kualitas Kecendekiaan, sebuah judul yang mengandaikan bahwa sastra dapat menjadi sumber nilai, sumber inspirasi, dan sumber pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kecendekiaan pembacanya. Itu adalah pengandaian yang berpijak pada pendekatan yang pragmatik tentang sastra, bahwa karya sastra ditulis bukan hanya untuk tujuan literer (estetik) tapi juga tujuan yang bersifat pragmatik atau non-literer.
Kalangan pragmatik yang cenderung memandang karya sastra dari sisi manfaat non-literernya berkeyanikan bahwa karya sastra dapat memberikan pencerahan nurani dan intelektualitas pembacanya. Sifat komunikasinya yang langsung menyentuh perasaan dan pikiran tiap individu yang menikmatinya, membuat karya sastra memiliki daya sugesti yang cukup kuat untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan mereka..

Lebih dari itu, kalangan pragmatik bahkan meyakini bahwa karya sastra mampu membangun suatu kesadaran sosial untuk mendorong terjadinya proses perubahan masyarakat dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik. Dalam bahasa media, karya sastra mampu membangun semacam opini publik. Jika bangunan opini publik itu menguat dan meluas, maka proses perubahan sosial bukannya tidak mungkin akan dapat digerakkan..

Dalam pemahaman seperti itu, intelektual sosialis seperti Arief Budiman dan Ariel Heryanto (misalnya melalui buku Perdebatan Sastra Kontekstual, Penerbit Rajawali, Jakarta, cetakan pertama, 1985), meyakini pentingnya sastra terlibat (sastra kontekstual) sebagai wujud kepedulian sastrawan pada persoalan-persoalan sosial-politik di sekitarnya, dan agar kesastraan tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri..

Jika kecendekiaan dipahami sebagai kualitas diri yang cerdik-pandai, peduli dan arif-bijaksana, maka kegiatan membaca karya sastra dapat ikut meningkatkan kualitas kecendekiaan tiap orang. Sebab, pada karya sastra, sebagai refleksi kehidupan (meminjam istilah Umar Kayam), tersaji nilai-nilai moral dan estetika serta berbagai kearifan hidup yang teraktualisasi secara imajinatif melalui bahasa sastra yang menarik dan inspiratif..

Sastrawan seperti Taufiq Ismail dan Kuntowijoyo, misalnya, meyakini bahwa tokoh masyarakat yang banyak membaca karya sastra akan lebih arif dan bijaksana dibanding yang jauh dari karya sastra. Karena itulah, Taufiq Ismail tak henti-hentinya menganjurkan agar masyarakat terpelajar banyak membaca karya sastra, setidaknya sejak mereka di bangku SLTA. Karena itu pula, Taufiq mendorong agar sistem pengajaran sastra di sekolah diubah, supaya siswa lebih banyak membaca karya sastra. Tidak seperti sekarang, yang menurutnya, ”pengajaran sastra dengan nol buku.”.

Keyakinan atas fungsi sastra seperti itu pula yang mendorong Taufiq, belakangan ini, banyak menulis ‘sajak pencerahan’. Misalnya, sajak-sajak tentang bahaya rokok dan narkoba, seperti dibacakannya pada peringatan Hari Anti Narkoba Internasional di plasa Gedung Pemuda, Senayan, Jakarta, pada 24 Juni 2006, yang diadakan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga. Kutipan sajak Tuhan Sembilan Senti berikut ini menegaskan keyakin. an Taufiq terhadap manfaat sastra sebagai media pencerahan:

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir. Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan? Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaiith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok. Jadi, ini PR untuk para ulama. Tapi, jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya dimakruh-makruhkan saja. Jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruang ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai batuk-batuk….

Meyakini kebermaknaan dan peran sastra dalam proses perubahan sosial sebenarnya tidak terlalu berlebihan, meskipun tidak semua sastrawan mempercayainya (Sapardi Djoko Damono, misalnya, menganggap karya sastra hanyalah ‘lebah tanpa sengat’). Apalagi, sekadar meyakini manfaat sastra untuk meningkatkan kualitas kecendekiaan pembacanya, tidaklah terlalu naif.

Jika keyakinan non-literer tersebut dirujukkan kepada pemikiran MH Abrams (dalam A Glossary of Literary Lamps, Holt Rinehart and Winston, New York, first edition, 1981) tentang orientasi sastra (orientasi penciptaan), pandangan pragmatik itu sesuai dengan ‘orientasi kedua’ yang memandang karya sastra sebagai media untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya.

Berdasarkan tujuan penciptaannya, Abrams mengelompokkan karya sastra ke dalam empat orientasi. Pertama, karya sastra sebagai tiruan alam atau penggambaran alam. Kedua, karya sastra sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya. Ketiga, karya sastra sebagai pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawannya. Dan, keempat, karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekeliling, pembaca maupun pengarangnya.

Pada ‘orientasi kedua’ Abram, karya sastra dipandang sebagai media untuk tujuan-tujuan yang cenderung pragmatis. Misalnya saja, sastra untuk sosialisasi ajaran agama (sastra dakwah), sastra untuk membangun kesadaran politik tertentu, atau untuk mendorong munculnya kesadaran sosial, seperti novel Max Havelar karya Multatuli dan sajak-sajak kritik sosial Rendra. Dalam orientasi ini, sajak-sajak Rabendranat Tagore juga dipercayai ikut mendorong semangat patriotisme kaum terpelajar India untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan Ingris. Sementara, sajak-sajak Kahlil Gibran ikut menyebarkan kearifan hidup bagi jutaan pembacanya di seluruh dunia.

Orientasi kedua itu pula sebenarnya yang menjadi tujuan penciptaan karya sastra di kalangan kaum sosialis dengan konsep realisme sosialnya. Tetapi kemudian, pada perkembangannya yang ekstrem, seperti tampak pada para sastrawan Lekra, sastra hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk kepentingan ideologi, politik, dan kekuasaan. Ini memang ‘jebakan’ yang paling berbahaya dari orientasi yang terlampau pragmatis. Pencapaian prestasi estetik tidak lagi menjadi tujuan, sebab sastra sekadar sebagai alat politik, dan politik itulah sang panglima yang harus diabdi oleh sastra untuk tujuan kekuasaan.

Tanpa bermaksud mensejajarkan agama dengan ideologi kaum Marxis, penciptaan karya sastra untuk tujuan dakwah — seperti dipraktekkan oleh para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) dengan gerakan yang sering disebut sebagai ‘gerakan fiksi Islami’ — sebenarnya juga berada pada jalur orientasi yang pragmatis tersebut. Indikasi yang ekstrem dari ‘gerakan fiksi Islami’ adalah cenderung dikesampingkannya tujuan dan prestasi estetik, dengan sikap yang sangat ‘hitam-putih’ dalam mendekati persoalan-persoalan kehidupan yang diangkat ke dalam karya. Nilai-nilai agama diformulasikan secara sangat formalistik dan tujuan-tujuan non-literer (dakwah) cenderung ditempatkan sebagai yang utama.

Orientasi yang terlampau pragmatis, baik dalam konteks sastra dakwah maupun sastra ideologi, memang sah-sah saja. Tetapi, kita tidak dapat menafikan kenyataan bahwa orientasi yang terlampau pragmatis akan menyebabkan pertumbuhan sastra menjadi pincang, karena prestasi-prestasi estetiknya akan cenderung tertinggal. Ini sangat tampak, baik pada karya-karya sastra kaum sosialis maupun gerakan sastra dakwah. Itu pula, antara lain, kenapa karya-karya fiksi Islami yang dewasa ini marak di Tanah Air tidak cukup mengundang perhatian dari kalangan kritisi maupun akademisi sastra.

Guna menghindari jebakan orientasi yang terlampau pragmatis itu, diperlukan keseimbangan antara orientasi pragmatis dan orientasi estetik dalam proses penciptaan, agar karya sastra yang lahir tidak hanya bermakna secara tematik tapi juga unggul estetikanya. Bagaimanapun, karya sastra yang bagus adalah karya sastra yang secara estetik mampu menggetarkan rasa keindahan dan secara tematik mampu mencerahkan nurani pembacanya.

Sebenarnya, apapun orientasi penciptaan karya sastra, karena merupakan sekumpulan sistem tanda yang menyimpan makna, maka ia akan memiliki kemampuan tersembunyi (subversif) untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran, dan karena itu dapat ikut menyumbang bagi peningkatan kualitas kecendekiaan pembacanya.
Karya sastra yang melukiskan keindahan alam, misalnya, secara tidak langsung akan mengajak pembacanya untuk menghayati kebesaran Sang Pencipta. Begitu juga karya-karya sastra yang bersemangat melawan penindasan, dengan efektif akan mempengaruhi pikiran pembaca untuk bersikap sama. Demikian juga karya-karya sastra yang mengajarkan kearifan hidup, akan mengajak pembacanya untuk memiliki kearifan yang sama.

Karya sastra juga memiliki efek pencerahan yang tidak jauh berbeda, ketika sang pengarang (penyair) memanfaatkan alam sebagai simbol pemikirannya, seperti misalnya dilakukan Abdul Hadi WM dalam sajak Tuhan, Kita Begitu Dekat, yang mengkristalkan konsep tasawuf dan menyadarkan kedekatan mahkluk dengan Tuhannya, sekaligus sebuah kesaksian (syahadat) sang penyair bahwa ia adalah ‘arah’ pada angin (titah) Tuhan:

Tuhan, kita begitu dekat
Bagai api dan panas
Aku panas dalam apimu
Tuhan, kita begitu dekat
Bagai angin dan arahnya
Aku arah pada anginmu

Begitu juga ketika karya sastra diorientasikan sebagai pancaran perasaan dan pikiran sastrawannya. Ketika pikiran sastrawannya adalah sikap kritis terhadap keadaan di sekitarnya, maka tanpa disengaja karya sastranya akan memiliki kekuatan pencerahan. Dan, ketika perasaan yang diekspresikan sang penyair adalah perasaan cinta, kasih sayang, pada sesama, maka perasaan itu akan menjadi kekuatan sugestif untuk memancarkan perasaan cinta dan kasih sayang pembaca pada sesama.

Dengan demikian, sebenarnya, tidak semua karya sastra yang memiliki kekuatan pencerah dan menjadi sumber inspirasi perubahan sosial adalah ‘sastra Marxis’ atau realisme sosialis. Tetapi, ia adalah karya sastra yang lahir dari sikap peduli terhadap pentingnya peningkatan kualitas hati nurani dan intelektualitas pembacanya dan sikap kritis terhadap lingkungannya. Hati nurani dan intelektualitas pada dasarnya adalah inti kecendekiaan seseorang. Dari sisi ini pula karya sastra diyakini dapat ikut meningkatkan kecendekiaan pembacanya.
Baca Lengkapnya....