Penyair Dunia Mengaduk Budaya di Sungai Musi

Membaca puisi di atas geladak Kapal Sigentar Alam yang melaju di atas Sungai Musi, Palembang, penyair Emha Ainun Nadjib harus mengandalkan spontanitas dan kemampuan vokalnya melawan deru angin dan suara mesin. Tapi, sajak yang ia rangkai secara spontan di atas kapal cukup apik dan retoris: Palembang,
Aku melihat
para penyembah cinta
dari Belanda, Italia,
Jerman, Australia…
Membawa cinta untuk diaduk
di atas kapal malam ini.
Palembang,
Marilah kita melakukan
pernikahan budaya
melalui puisi…

Emha memang dikenal piawai berimprovisasi dan merangkai retorika secara spontan. Sementara, penyair-penyair lain termasuk beberapa penyair manca negara yang tidak mengandalkan improvisasi, agak keteter dan suara mereka pecah oleh terjangan angin yang cukup kencang. ”Suaraku hilang diterbangkan angin,” ujar Flavio Santi, penyair dari Italia, usai membaca sajak di kapal itu.

Meskipun begitu, acara baca puisi di atas kapal pesiar tersebut menjadi sesi yang sangat unik dan mengesankan bagi para peserta The Indonesian International Poetry Festival (IIPF) 2006, yang digelar di Palembang (2-3 Juli) dan Jakarta (5-8 Juli), itu. Tidak hanya di panggung gedung kesenian, mereka juga mencoba mengaduk budaya lewat puisi di atas kapal, di tengah sungai, seperti kutipan sajak spontan Emha di atas.

Festival yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) ini diikuti sekitar 40 penyair dari 37 negara. Selain Santi, dari manca negara ada Hans Wap, Tsead Bruinja, dan Peter Swanborn (Belanda), Martin Jankowski (Jerman), Flavio Santi (Italia), Anni Sumari (Finlandia), Hal Jugde (Australia), Khairulizam (Malaysia), serta Madeleine Lee (Singapura).

Di kota empek-empek Palembang, acara utama digelar di gedung Graha Budaya. Para penyair bergantian membaca puisi dalam bahasa ibu (asli) mereka masing-masing, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Selain Emha, beberapa penyair Indonesia yang tampil di Palembang, antara lain Taufiq Ismail, D Zawawi Imran, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Dorothea Rosa Herliani, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Raudal Tanjung Banua.

Sebuah buku antologi puisi setebal 476 halaman, bertajuk Poetry and Sincerity, yang dieditori oleh Agus R Sarjono dan Martin Mooij, melengkapi even sastra yang bernuansa wisata dan penuh semangat persahabatan tersebut. ”Festival ini didedikasikan untuk semangat persahabatan dan kemanusiaan,” ujar Agus, yang juga ketua panitia festival.

Bagi para penyair Indonesia, kata pengamat sastra yang juga angota panitia festival, Maman S Mahayana, festival puisi ini dapat membuka peluang untuk mengenal karya dan sosok penyair dari negara-negara lain. Mereka dapat saling berkenalan sehingga lingkup pergaulan sastra mereka menjadi lebih luas. ”Pengenalan itu akan memperkaya perspektif, gagasan, dan proses kreatif penciptaan puisi bagi mereka,” katanya.

Festival puisi ini juga diyakini dapat meningkatkan kesepahaman lintas budaya melalui puisi. Pengamat sastra dari Universitas Tasmania yang kini sedang menekuni studi tentang Indonesia, Heather Curnov, melihat even ini dapat menjadi forum dialog budaya antar-bangsa guna membangun saling pengertian. ”Penyair-penyair dari berbagai negara dapat bertemu dan berdialog bebas tentang sastra dan budaya masing-masing,” katanya.

Dengan menyaksikan festival ini, para pengamat sastra juga dapat memperbandingkan gagasan, gaya pembacaan puisi, dan estetika bahasa dari banyak penyair dari negara lain. Tampak, misalnya, para penyair Indonesia dan Malaysia lebih ekspresif dalam membaca sajak di panggung. Sedangkan penyair-penyair Eropa dan Australia lebih dingin dan datar.

Sajak-sajak para penyair Eropa dan Australia rata-rata juga lebih sederhana dan komunikatif, serta banyak mengangkat pengalaman keseharian, termasuk catatan perjalanan. Sedangkan sajak-sajak penyair Indonesia cenderung berestetika lebih rumit dengan tema-tema yang berat, serta cenderung berfilsafat, atau berisi kritik sosial-politik yang tajam dan pedas.

Meskipun begitu, ada benang merah yang jelas menyatukan karya-karya mereka, yakni semangat kemanusiaan. Martin Mooij yakin, nilai-nilai kemanusiaan yang disuarakan oleh para penyair itu akan berumur panjang dan bermakna universal. ”Penyair tidak akan berhenti melontarkan suara-suara manusia yang lemah di tengah puncak kekerasan perang, pembungkaman, tekanan senjata, atau penjara,” tulisnya pada pengantar buku.

Di Jakarta, acara utama digelar di Teater Kecil dan Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) serta di areal air mancur Monas. Sederet penyair Indonesia, seperti Abdul Hadi WM, Aslan Abidin, Anwar Putra Bayu, Azhari, Gus tf Sakai, Godi Suwarna, Nenden Lilis, Sitor Situmorang, T Wijaya, dan Warih Wisatsana, menambah kesemarakan pentas baca puisi, yang diantarkan oleh Santi Diansari dan Acep Zamzam Noor. Emha, yang tampil bersama grup musik Kiai Kanjeng, menambah daya tarik pertunjukan.

Sesi acara yang juga menarik dan mengesankan adalah penayangan rekaman seluruh acara festival dengan teknologi digital-hologram di atas air mancur Monas. Tayangan digital yang digarap oleh Hery Dim dan Malhamang Zamzam itu sempat memukau ribuan penonton yang sedang berekreasi di Monas. Para penyair dari manca negara pun sempat dibuat takjub. ”Baru pertama kali ini saya mengikuti acara sastra yang spektakuler seperti ini,” komentar penyair Jerman, Martin Jankowski.

Betapa tidak, di udara terbuka, di atas air mancur Monas, terpampang ‘layar virtual’ yang selama sekitar dua jam menayangkan cuplikan-cuplikan terpenting acara festival, sejak pembukaan di Palembang, sampai pentas terakhir di TIM. Malam harinya (8 Juli) acara ditutup di Teater Kecil TIM. Dan, berakhirlah perhelatan besar yang begitu bermakna dan sangat mengesankan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar