GENDON

Karena lelaki itu hampir selalu menghabiskan sepanjang harinya untuk tidur mlungker di serambi masjid, orang pun menjulukinya Gendon. Ia adalah lelaki tunanetra yang tidak begitu jelas asal usulnya. Tiba-tiba saja dia sudah berada di masjid kampungku dan menyerahkan seluruh hidup matinya pada warga di sekeliling masjid.
    Tidak seorang pun tahu pukul berapa ia datang, diantar siapa, dan berasal dari mana. Orang-orang kampung hanya mencatat dalam ingatan masing-masing, bahwa pagi itu, ketika waktu Subuh tiba, mereka dikejutkan oleh suara azan yang sangat aneh dari mesjid tua itu.
    Suara azan yang dikumandangkan dengan bantuan corong dari seng itu segera membangunkan warga sekitar masjid kecil yang lebih layak disebut sebagai mushalla. Orang-orang kaget karena sudah cukup lama masjid itu sepi dari suara azan subuh. Bahkan, hampir tidak pernah digunakan untuk sembahyang berjamaah kecuali pada hari Jumat.
    Begitu azan terdengar, Bu Malik, menantu almarhum Kiai Solikhin yang rumahnya bersebelahan dengan masjid, langsung terbangun. Ia merasakan seperti ada suara malaikat yang bergetar keras di telinganya dan menghentak seluruh syarafnya. Suara azan yang melengking tinggi itu seperti mengiris-iris hatinya sampai ngilu.
    Bu Malik lantas menengok suaminya. Ia rupanya juga sudah terbangun oleh suara azan itu. Dalam keremangan cahaya listrik lima watt, Pak Malik, anak tertua Kiai Solikhin, tampak duduk memeluk lututnya sambil memperhatikan suara aneh itu. Akan tetapi, kemudian dia menguap dan tidur lagi sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
    Karena penasaran pada suara azan itu, Bu Malik keluar menuju masjid. Tanpa diduga, beberapa tetangganya yang tinggal di kanan kiri masjid juga ikut keluar untuk mengintip pemilik suara aneh yang menggetarkan hati itu.
    "Suara siapa itu, Bu," tanya seorang tetangganya.
    "Saya tidak tahu. Saya mau melihatnya," jawab Bu Anwar sambil bersijingkat ke jendela samping masjid.
    "Siapa, Bu?" tanya tetangganya lagi.
    Bu Malik hanya menggeleng.
    Para tetangganya kemudian ikut mengintip pemilik suara aneh itu. Namun, tidak seorangpun mengenal lelaki kurus bersarung dan berpeci lusuh yang dengan penuh perasaan mengalunkan azan Subuh.
    Selesai azan, lelaki itu membaca Shalawat Nabi. Cukup lama. Karena tidak ada seorang pun yang datang untuk berjamaah Subuh, baik imam maupun makmum, akhirnya lelaki itu mengumandangkan qomat.
    Bersamaan dengan geletar suara qomat, tiba-tiba muncul degupan aneh di dada Bu Malik. Degupan itu kemudian dengan begitu kuat menyeret langkahnya ke tempat wudu dan menggerakkan tangannya untuk berwudu serta melangkah kembali ke masjid. Ia lalu mengambil mukena di lemari masjid dan berdiri di belakang lelaki asing itu untuk menjadi makmumnya.
    Langkah Bu Malik rupanya diikuti oleh beberapa tetangganya yang ikut mengintip di jendela masjid. Mereka pun melakukan shalat Subuh untuk pertama kali di masjid itu sejak meninggalnya Kiai Solikhin dua tahun lalu.
    Usai shalat, orang asing itu menyalami Lek Sodikun, salah seorang tetangga Bu Malik yang ikut berjamaah. Mereka pun kaget melihat mata lelaki itu. Orang asing itu ternyata tuna netra.
    "Lho, Bapak tidak bisa melihat?" tanya Bu Malik.
    "Ya, Bu," jawab lelaki itu.
    "Bapak dari mana?" tanya Lek Sodikun.
    "Mengapa Bapak tiba-tiba ada di sini?" tanya yang lain.
    "Saya sendiri tidak tahu, saya ini berasal dari mana. Sejak kecil saya hidup dari masjid ke masjid. Sehabis sembahyang malam di masjid terakhir tempat saya tinggal yang tidak saya ketahui namanya dan daerah mana, tiba-tiba ada seseorang yang membawa saya. Saya di bawa naik mobil dan diturunkan di sini. Ketika saya tanya, siapa dia dan akan membawa saya ke mana, dia hanya bilang bahwa saya akan tahu sendiri nanti dan saya dilarang bertanya lagi. Setelah saya diturunkan dia hanya berkata, di sinilah tempatku yang baru," cerita lelaki buta itu.
    "Lantas, siapa namamu?" tanya Bu Malik.
    "Namaku Slamet, Bu."
    "Lalu, keluargamu di mana?"
    "Saya tidak punya siapa-siapa, Bu. Tidak punya keluarga, tidak ada yang tahu saya anak siapa. Sejak kecil saya buta dan sejak kecil pula saya tinggal dan hidup di masjid. Sejak kecil saya hidup dari belas kasihan orang-orang di sekitar masjid yang tiap hari secara bergiliran memberi makan saya," cerita Slamet.
    "Kalau begitu, tinggal saja di masjid ini. Sudah lama masjid ini tidak ada yang mengurus. Kalau waktu shalat tiba juga tidak ada yang azan. Soal makan, jangan khawatir. Saya akan memberimu setiap hari," kata Bu Malik.
    "Saya juga bersedia memberimu makan," sambung Lek Sodikun.
    "Saya juga," ujar yang lain.
    "Kalau begitu kami akan memberi makan secara bergiliran," ujar Bu Malik sambil menyentuh dengkul lelaki buta itu.
    Sejak hari itulah hidup mati Slamet menjadi tanggungan warga di sekitar masjid kampungku. Bu Malik mengatur giliran memberi makan Slamet sehari tiga kali. Mula-mula di mata warga setempat lelaki itu tampak menyenangkan. Ia sangat rajin mengurus masjid, azan tiap waktu shalat tiba dan mengaji hampir sepanjang hari. Masjid yang semula sepi dan terbengkelai itu menjadi ramai kembali.
    Anggapan masyarakat terhadap Slamet pun terus berkembang. Ia tidak lagi sekedar dianggap sebagai muazin dan pemakmur masjid, tetapi juga dianggap sebagai wali tiban. Orang-orang pun berebutan memberinya makan dan memanjakannya. Slamet semakin lama bertambah gemuk saja.
    Bukan begitu saja. Slamet, sebagai wali tiban, juga menjadi tempat tumpahan suka duka warga kampung. Bahkan, juga menjadi semacam konsultan agama, keluarga, dan segala macam persoalan kampung.
    Semakin lama Slamet makin sibuk melayani orang-orang kampung. Setiap hari selalu ada persoalan yang diadukan kepadanya. Bahkan, kemudian banyak juga yang menanyakan nomor buntut SDSB yang bakal keluar. Hal yang paling membuatnya tidak tahan adalah semakin banyaknya orang yang suka memancing-mancingnya untuk ngrasani warga kampung yang dianggap punya borok, ngrasani Lek Parto yang anaknya menjadi perawan tua, Surtiyem yang hamil tanpa suami, Pak Kasman yang kaya mendadak dan dianggap punya tuyul, Pak Kasno yang korupsi, atau Pak Kadus yang memanipulasi uang proyek irigasi, dan banyak lagi. Inilah yang membuat dia terpaksa memutuskan untuk menutup forum konsultasi gratisnya dan memilih tidur untuk mengisi waktu luangnya.
    Slamet segera minta tolong seorang pemuda kampung untuk menulis 'Mulai hari ini tidak terima tamu' pada selembar kertas karton. Kertas ini ia pasang pada dinding serambi masjid. Setiap habis makan pagi, makan siang, dan makan malam dia tidur di bawah tulisan itu. Ia hanya bangun tiap waktu azan tiba, kemudian sembahyang, makan dan tidur lagi. Ini berjalan sampai berbulan-bulan hingga warga kampung menjulukinya ‘Gendon’.
    "Untuk menghindari dosa lebih baik saya tidur," jawab Slamet ketika Bu Malik menanyakan perubahan kebiasaannya yang mendadak itu, tanpa mau menjelaskan dosa apa yang dimaksudnya.
    Semula orang-orang kampung maklum saja atas perubahan kebiasaan Slamet itu. Ini karena mereka terlanjur menganggapnya sebagai wali tiban. Mereka menganggap wajar, bahwa seorang wali kadang-kadang memang suka berbuat yang aneh-aneh. Mereka dengan suka rela tetap memberi makan pada Slamet sesuai giliran masing-masing. Sampai pada suatu ketika desa mereka dilanda musim paceklik, sawah-sawah diserang hama wereng, dan panen gagal total. Warga kampung mulai keberatan untuk memberi makan Slamet. Konflik tentang Slamet pun mulai muncul.
    "Maaf, Bu Malik, mulai besok saya tidak sanggup lagi memberi makan Slamet," kata Mbok Sodikun di serambi masjid seusai sembahyang Asar. "Sawah saya kena wereng semua, tidak bisa dipanen. Untuk makan sendiri saja repot, Bu."
    "Saya juga tidak bisa lagi, Bu," sambung Bu Pardi.
    "Saya juga tidak bisa," timpal yang lain lagi.
    "Aduh! Apa harus saya yang menanggung semuanya sekarang. Sawah saya juga kena wereng. Ibu-ibu ini bagaimana? Beban saya kan terlalu berat nanti. Apalagi sekarang Slamet makannya semakin banyak. Ibu-ibu dulu kan sudah sanggup untuk membantu," jawab Bu Malik dengan nada kecewa.
    "Habis bagaimana lagi, Bu. Keadaan kami sedang paceklik," kata Mbok Sodikun.
    "Bagaimana kalau Slamet kita suruh pindah saja ke masjid lain," usul Bu Pardi.
    "Ya, kita suruh pindah saja. Lagi pula dia sekarang kerjanya cuma tidur saja, mlungker seperti gendon," kata yang lain.
    "Apa tidak kasihan dia?"
    "Kasihan bagaimana? Kita sendiri sedang kekurangan makan."
    "Salah kita, dulu kita sanggup memberi makan dia."
    "Sudahlah! Biar saya saja yang memberi makan," kata Bu Malik akhirnya.
    Akan tetapi, keputusan Bu Malik itu menimbulkan konflik tersendiri dengan suaminya. Pak Malik keberatan untuk menanggung seluruh kebutuhan hidup lelaki tunanetra itu. Bahkan, Pak Malik kemudian memutuskan untuk memindahkan Slamet ke masjid lain.
    Sore itu, Pak Malik bermaksud 'membuang' Slamet ke luar kampung. Ia mengambil sepedanya untuk memboncengkan lelaki itu. Akan tetapi, begitu dia memegang stang sepedanya, tiba-tiba terdengar derum mobil yang berhenti di depan masjid. Sesaat kemudian, derum itu mengeras dan lenyap tiba-tiba.
    Pak Malik cepat-cepat memburu suara itu, tetapi tidak menemukan apa-apa di depan masjid. Dengan penasaran dia lantas menengok ke dalam masjid. Tidak ada siapa-siapa. Slamet, yang biasanya tidur di serambi masjid, juga tidak kelihatan lagi. Ia lantas mencarinya ke seluruh sudut masjid, WC, kamar mandi, dan tempat wudu. Tetap saja lelaki itu tidak ditemukan.
    "Bu, Slamet hilang!" teriak Pak Malik.
    Bu Malik pun segera ikut mencari Slamet, begitu juga orang-orang sekitar masjid. Bahkan, mereka juga mencarinya ke seluruh sudut kampung. Slamet tetap tidak ditemukan. Juga tidak ditemukan jejak ban mobil di depan masjid, padahal tanah di depan masjid basah karena baru saja turun hujan – hujan yang juga aneh karena tiba-tiba turun di tengah musim kemarau. Mereka makin terheran-heran ketika kemudian menemukan pesan Slamet tertulis pada selembar kertas yang tergeletak di pintu masjid:
    Bapak-Ibu tidak perlu repot-repot memikirkan makan saya lagi. Juga tidak perlu susah-susah memindahkan saya ke masjid lain. Sebab sang Gendon kini telah berubah menjadi Kwangwung. Dengan sayapnya kini sang Kwangwung terbang ke langit. Selamat tinggal. (Slamet)
    Warga kampungku semakin yakin bahwa lelaki tunanetra itu benar-benar wali tiban yang raib kembali karena tugasnya di masjid kampungku telah selesai.

Yogyakarta, 22 Maret 1992

*Cerpen ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Juni 1992, dan memenangkan juara harapan Suara Merdeka Awards ‘92.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar